Monday, November 9, 2009

MENTAL BLOCK TERBESAR DALAM HIDUP



Suatu ketika ada seorang perempuan muda, sebut saja Nidar, datang untuk berkonsultasi kepada saya. Ia merasa ada sebuah penghalang besar yang menghalangi dirinya, sehingga ia tidak bisa meraih sukses atau pekerjaan yang layak bagi dirinya.

Akhirnya setelah melakukan beberapa interview, saya pun melakukan proses hypnotherapy kepada dirinya. Saya membawanya ke kondisi profound somnambulism, dan kemudian melacak problem sesungguhnya yang di alami oleh Nidar.

Ternyata ia merasa dirinya tidak cantik, tidak tinggi, dan tidak langsing. Padahal dalam pekerjaan yang pernah ia geluti sebelumnya, ia berharap seperti demikian. Padahal menurut saya, Nidar ini adalah perempuan yang cantik, tinggi, dan cukup langsing. Tapi ia tidak merasa demikian. Ia menghakimi dirinya sendiri. Nidar pada dasarnya merasa disepelekan dan tidak dihargai, dan ketiga kategori di atas adalah parameter ia merasa dihargai.

Akhirnya setelah melewati proses terapi selama satu setengah jam, akhirnya ia kembali menghargai dirinya sendiri. Setelah terapi, ia merasa badannya terasa sangat ringan, seperti ada sebuah beban yang tiba-tiba hilang dari dirinya. Ia merasa sangat plong, dan ia merasa seperti ingin terbang dan begitu bahagia.

Seperti hal Nidar, begitu banyak orang yang mencoba menyangkal dan tidak mengakui shadow mereka dengan melakukan yang sebaliknya dan berusaha untuk menutupinya. Bahkan yang lebih parah lagi adalah menjadi pembenci orang lain atas sikap mereka, dimana sikap tersebut adalah shadow-nya sendiri.

Steven, seorang konsultan bisnis sukses tapi gagal dalam membangun hubungan cinta pernah bercerita bahwa ia begitu membenci salah seorang yang ia temui. Steven menganggap orang tersebut pengecut dan Steven sangat membenci orang yang pengecut.

Setelah ia menyelami dirinya sendiri, ia mendapati dirinya sendiri bahwa saat ia berusia lima tahun, ayahnya mengajaknya masuk ke sirkus kuda. Steven belum pernah melihat kuda sungguhan, dan hal itu membuatnya menjadi takut. Ketika Steven mengatakan kepada ayahnya bahwa ia tidak ingin masuk ke sirkus kuda karena takut, ayahnya memarahinya, “Akan jadi laki-laki seperti apa kamu ini? Dasar bocah penakut, kamu mempermalukan keluarga kita.” Steven pun dihukum. Dan sejak saat itu ia memutuskan untuk tidak lagi bersikap seperti penakut. Ia menghabiskan hidupnya untuk membuat ayahnya bangga. Ia meraih sabuk hitam karate, bermain futbol semasa kuliah, ikut angkat besi. Dan semua ini dilakukannya untuk sekedar membuktikan bahwa ia bukan banci.

Ia berhasil membuktikan bahwa dirinya bukan pengecut kepada ayahnya, dengan berusaha membuktikan dirinya; tapi ternyata kenyataan tersebut masih menghantui dirinya. Ia berusaha menolaknya dengan ikut membenci orang-orang yang pengecut. Dan sebagai bukti bahwa ia tidak menerima dirinya adalah bahwa ketika ia mencoba menjalin hubungan dengan perempuan, ternyata sikapnya menjadi penakut. Ia takut kepada perempuan, takut berkomunikasi secara jujur, dan hal ini mengakibatkan banyak masalah dalam kehidupan pribadinya.

Banyak orang membenci orang kaya, membenci orang lain bisa sukses, membenci keberhasilan orang lain, dan semua kebencian itu selalu dengan alasan yang nampak rasional. Sikap seperti ini mungkin saja karena orang-orang tersebut juga membenci dirinya sendiri dan membenci kekayaan, kesuksesan, dan keberhasilan.

Bahkan ada yang mencoba meraih suskes karena ingin membuktikan kepada keluarga, teman, dan orang lain bahwa dirinya bisa dan apa yang mereka ungkapkan itu tidak benar. Di satu sisi ini merupakan motivasi dan tidak jarang ada yang betul-betul sukses dan berhasil membuktikan dirinya. Tetapi, apakah kita ini sadar bahwa kehidupan itu bukan hanya sekedar menutupi kebencian dan berusaha membuktikan sesuatu, tetapi lebih kepada meraih kebahagiaan dan kesempurnaan yang hakiki menuju kepada Sang Sumber Cahaya.

Berbicara tentang the shadow, maka kita mengacu pada titik lemah atau Achilles Heel, sebuah istilah yang berasal dari mitologi Yunani. Alkisah ada seorang panglima perang yang sangat hebat bernama Achilles. Di waktu kecil ia pernah direndam oleh ibunya ke dalam sungai Styx, sungai yang dapat membuatnya menjadi kebal.

Air sungai itu membasahi seluruh tubuh Achilles, kecuali tumitnya yang digenggam oleh tangan ibunya. Ketika dewasa Achilles berusaha membuktikan dirinya bahwa ia adalah panglima besar yang tangguh. Ia berusaha membuktikan dirinya bahwa ia tak terkalahkan, dan ia memang memenangkan banyak pertempuran. Ia tahu bahwa ia mempunyai satu titik kelemahan pada tumitnya, namun ia menutupi hal itu dengan membuktikan bahwa ia betul-betul kebal dan tak terkalahkan.

Daripada menerima kenyataan tersebut dan belajar darinya, Achilles justru selalu berusaha membuktikan bahwa ia tak terkalahkan. Hingga pada suatu ketika, musuh bebuyutannya, Paris, memanah fatal tumitnya.

Seperti halnya Achilles, kebanyakan orang tidak mau mengakui bahwa mereka memiliki titik lemah, dan berusaha menutupi the shadow mereka dengan berupaya tampil sesempurna mungkin. Menurut Bloomfield, kita masing-masing memiliki satu titik lemah, kelemahan, kegelisahan, atau kerentanan yang membuat kita tetap tersandung.

Sindrom Achilles adalah harga yang kita bayar akibat melawan titik lemah kita. Sindrom ini mengacu pada satu hukum psikologis:

APA YANG KITA TOLAK TETAP TERJADI

Benar, apapun yang berusaha Anda sembunyikan dalam diri Anda, dan Anda tidak mau mengakuinya, tetap akan mempengaruhi Anda. Alih-alih ingin tampil sempurna, dengan tidak mengakui the shadow, sebenarnya kita akan selalu tampil dalam ketidak-sempurnaan. Ketika kita menerima dan belajar dari hambatan dan tantangan yang paling besar dalam diri kita, maka hal itu bisa merupakan sumber tenaga, suatu perangsang pada pertumbuhan kita.

Menurut Robert B. Stone, paling tidak terdapat lima hambatan yang selalu membuat kita sulit meraih sukses:

  1. Kegelisahan dan kecemasan. Hal ini menyebabkan ketegangan dalam badan. Koordinasi otot dan efisiensi mental dapat dipengaruhi oleh keadaan ini. Kesehatan kita pun jadi ikut terganggu, dan biasanya system pencernaan kita terkena dampaknya paling awal. Gejala lainnya juga berkisar pada sakit kepala dan serangan jantung.
  2. Takut. Ini merupakan hambatan yang tersembunyi. Perasaan takut melakukan sesuatu seringkali membuat kita selalu mandek dalam mengerjakan sesuatu.
  3. Benci-diri. Begitu banyak orang yang selalu menimpakan semua kesalahan pada dirinya sendiri. Jika ada sesuatu yang tidak beres, alih-alih mencari tahu apa yang terjadi dan mengoreksi diri sendiri, malah tanpa sadar menghukum diri sendiri.
  4. Pesimisme. Merasa tidak bisa sukses dan seringkali memberikan bukti dengan membeberkan kegagalan yang sering dialami.

5. Kesan diri yang terbatas. Kita mempunyai kebiasaan berpikir dalam keterbatasan. Kebiasaan ini seringkali mengganggu kita dalam melakukan sesuatu. Seringkali kita merasa tidak layak dalam mendapatkan sesuatu yang sesungguhnya baik bagi kita.

Dengan gaya yang sedikit berbeda, Harold H. Bloomfiled, menyebutkan lima jenis hambatan yang sering mengganjal kita, disertai kata hati yang terlintas:

  1. Saya takut disakiti lagi.

“Saya tidak tahu apakah saya bisa menjumpai orang yang benar”

“Ketika persahabatan menjadi serius, saya merasa khawatir”

“Saya khawatir ia akan menolak presentasi saya”

  1. Saat saya bercermin, saya tidak pernah puas.

“Saya berharap saya bisa lebih tinggi”

“Saya malu kalau audiens melihat jerawat saya ketika saya berbicara”

“Saya merasa tidak memiliki penampilan yang menarik”

  1. Saya tidak tahan kritikan.

“Saya selalu mencoba menyenangkan orang lain”

“Saya berharap orang-orang mengerti perasaan saya”

“Saya ingin selalu tampil sangat sempurna agar tidak ada yang mengetahui kelemahan saya”

  1. Saya selalu merasa tegang dan tergesa-gesa.

“Saya tidak bisa istirahat sampai semuanya berjalan mulus”

“Saya jadi marah kalau orang tidak menepati janjinya”

“Bahkan dalam liburan pun saya tidak pernah bisa santai”

  1. Saya harap saya bisa lebih bahagia.

“Apapun yang saya lakukan saya tidak pernah puas”

“Saya berhasil dalam pekerjaan saya tetapi saya ragu apakah ada perubahan dalam hidup saya”

“Saya kira saya lebih bahagia jika………………(sudah menikah, punya anak, mendapat pekerjaan)”


Thursday, October 15, 2009

BERDOALAH!


Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu (QS 40:60)

Larry Dossey adalah seorang doker, seperti dokter kebanyakan lainnya. Apa maksudnya? Ia adalah dokter yang mempercayai suatu kesembuhan terjadi karena faktor kimiawi obat yang diberikan ataupun usaha-usaha medical lainnya. Kesembuhan hanya merupakan faktor perubahan biologis semata, tanpa ada faktor pendukung lainnya. Dossey waktu itu memahami bahwa ilmu pengetahuan dan obyektifitas memberikan suatu kenyataan bahwa untuk memecahkan masalah kesehatan adalah dengan bantuan obat-obatan dan prosedur pembedahan.

Hingga suatu ketika, ditahun pertama ia praktek, salah seorang pasiennya mengidap kanker paru-paru yang sangat kritis. Pasien tersebut menolak semua tindakan medis. Satu-satunya yang pasien tersebut inginkan adalah sebuah usaha penyembuhan agar jemaat gereja mengelilingi tempat tidurnya selama jam besuk, dan kemudian berdoa tanpa henti atas kesembuhannya. Dossey waktu itu menyuruh pasien tersebut agar pulang ke rumahnya, karena bagi Dossey, tak ada lagi harapan kesembuhan baginya, karena pasien tersebut menolak semua perawatan medis.

Namun apa yang terjadi? Setahun kemudian pasien tersebut datang ke rumah sakit karena menderita flu berat. Ia datang karena menderita flu berat dan bukan lagi karena mengidap kanker. Dossey terkejut karena ternyata pasien tersebut justru sembuh dari penyakit kankernya. Untuk membuktikannya, Dossey kemudian memeriksa hasil rontgen terbaru pasien tersebut. Dokter radiologi melaporkan bahwa dalam 12 bulan, paru-paru pasien tersebut telah mengalami respons luar biasa terhadap pengobatan, dan foto paru-parunya tampak normal kembali. Dokter radiologi yang memberikan pernyataan tersebut, mengira bahwa pasien tersebut selama di rumah sakit telah mendapat kemoterapi atau pengobatan lain yang membuat kankernya lenyap. Namun Dossey yang merawat pasien tersebut yakin bahwa satu-satunya perawatan bagi pasien tersebut hanyalah doa yang dilakukan oleh sahabat-sahabat jemaatnya.

Kasus ini kemudian menjadi sebuah tantangan medis bagi Dossey, dan kemudian ia meneliti tentang pengaruh faktor lain terhadap kesembuhan selain karena faktor medis. Salah satu yang menarik adalah sebuah penelitian yang pernah dilakukan di RSU San Francisco. Penelitian tersebut melibatkan 393 pasien yang semuanya mendapat serangan jantung, dan dirawat dengan metode yang sama. Namun sebagian pasien yang lain mendapat perawatan tambahan berupa doa. Nama-nama dari separuh pasien tersebut dibagikan ke berbagai kelompok pendoa di berbagai negeri. Dan hal ini dilakukan tanpa diketahui oleh pasien yang bersangkutan. Kelompok-kelompok pendoa tersebut mendoakan nama-nama pasien tersebut kesembuhan.

Anda tentu sudah bisa menebak apa yang terjadi, kan? Terdapat perbedaan yang mencolok antara kedua kelompok pasien tersebut. Kelompok pasien yang didoakan seolah-olah mendapat perawatan khusus. Mereka yang didoakan menunjukkan kemungkinan tiga kali lebih sedikit akan mengalami komplikasi. Lima kali lebih sedikit akan membutuhkan antibiotik, dan memiliki kemungkinan hidup yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak didoakan. Hal terpenting, menurut Dossey, yang ada dalam penelitian tersebut bahwa doa memang memiliki peran dalam penyembuhan para pasien.

Dalam bukunya yang berjudul “Healing Words”, Larry Dossey mengemukakan bahwa doa yang dipanjatkan dengan kepasrahan memberikan tingkat pengabulan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perasaan ngotot. Selain itu, menurut Dossey, dua jenis doa (doa untuk diri sendiri dan doa untuk orang lain) sebaiknya dilakukan kedua-duanya karena kedua cara itu memang terbukti berhasil. Oleh sebab itu, selain Anda berdoa untuk Anda sendiri, alangkah baiknya jika Anda juga menitip doa kepada orang lain. Anda mendoakan orang lain sekaligus Anda meminta tolong kepada orang lain agar turut memasukkan nama Anda dalam doa-doa mereka. Saya pun demikian, saya mohon kepada para pembaca artikel saya ini, untuk memasukkan nama saya dalam permohonan-permohonan kebaikan Anda kepada Tuhan. Semoga doa kebaikan Anda semua dikabulkan oleh-Nya. Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (QS 7:55)

Sunday, October 4, 2009

ANDA ADALAH MOTIVATOR


Suatu hari, saya merasakan sebuah beban yang sangat berat. Begitu beratnya sehingga membuat saya betul-betul merasa tidak bersemangat. Yang saya lakukan waktu itu adalah berbaring sejenak dan mencoba untuk me-rilekskan tubuh, sambil ber-shalawat.

Ketika berbaring rileks dan dan ber-shalawat itulah, tanpa sadar mengalir tetes-tetes air mata saya. Saya merasa bahwa betapa tidak ada apa-apanya diri ini, kecuali dengan bantuan-Nya. Oleh sebab itu, saya memohon kekuatan dan jalan terang kehidupan. Dan apa yang kemudian terjadi?

Entah karena faktor LOA atau karena faktor X, tidak berapa lama saya ber-shalawat, datanglah sebuah SMS dari nomor yang belum saya kenal. Isi SMS-nya berbunyi: “Kesuksesan bukan milik orang-orang tertentu, tapi milik Anda yang mau berjuang untuk mencapainya. Ingat! Anda bukan siapa-siapa jika tidak melakukan apa-apa. Terus berjuang karena QT BISA...!”

Demikian bunyi SMS yang saya terima waktu itu. Sebuah SMS yang rasanya pas panget untuk kondisi saya waktu itu. Sebuah SMS yang memberikan motivasi kepada saya. Dan entah karena faktor LOA, Allah swt ternyata selalu membantu saya ketika saya mencoba untuk berkeluh-kesah kepada-Nya. Dan salah satu bantuan yang saya rasakan adalah munculnya SMS tersebut secara tiba-tiba di saat merasakan sebuah beban hidup.

Ketika membaca SMS “misterius” itu, saya langsung tersenyum. Dan entah dari mana datangnya, saya merasakan beban itu hilang seketika dan menjadi bergairah kembali. Saya kemudian membalas SMS itu: “Makasih atas motivasinya! Btw ini dengan siapa ya?”

Dan alangkah terkejutnya saya ketika mendapat balasan SMS. Isinya berbunyi: “Ini dengan Riyan dari Pamekasan, pembaca buku yang bapak karang, o ya pak saya juga mengucapkan terima kasih atas usaha bapak mengarang buku tersebut karena hal itu telah merubah hidup banyak orang.”

Saya terkejut karena SMS yang tiba-tiba muncul (sepertinya LOA bekerja bagi saya, seperti yang saya bahas dibuku saya tersebut), dikirim oleh seseorang yang telah membaca buku saya dan telah memberikan manfaat baginya. Dengan buku tersebut, saya mencoba untuk sharing, dan saya pun justru sangat dibantu oleh para pembaca buku saya. Pak Riyan telah memotivasi saya kala itu. SMS yang datang kepada saya bertepatan dengan situasi dan kondisi yang tepat.

Oleh sebab itu, walaupun saya seorang mind programmer dan sering memberikan pelatihan dan motivasi di berbagai kalangan, Anda pun khususnya para Pak Riyan dan para pembaca buku saya dan para pembaca artikel di blog saya adalah motivator yang luar biasa. Anda semua telah memberikan arti bagi saya pribadi, dan melalui Anda semua saya bisa sharing, berkenalan, dan saling mendukung satu sama lain. Sukses n bahagia selalu untuk Anda semua!


Thursday, September 17, 2009

Behaviorisme dan Otak



J. B. Watson pernah melakukan sebuah eksperimen bersama Rosalie Rayner di John Hopkins. Tujuannya untuk menimbulkan dan menghilangkan rasa takut. Subyek eksperimennya adalah Albert B, bayi sehat berusia 11 bulan yang tinggal di rumah perawatan anak-anak invalid, karena ibunya menjadi perawat di situ. Albert menyayangi tikus putih. Sekarang takut ingin diciptakan. Ketika Albert menyentuh tikus itu, lempengan baja dipukul keras tepat di belakang kepalanya. Albert tersentak, tersungkur dan menelungkupkan mukanya ke atas kasur. Proses ini diulangi: kali ini Albert tersentak, tersungkur, dan mulai bergetar ketakutan. Seminggu kemudian, ketika tikus diberikan kepadanya, Albert ragu-ragu dan menarik tangannya ketika hidung tikus itu menyentuhnya. Pada keenam kalinya, tikus diperlihatkan dengan suara keras pukulan baja. Rasa takut Albert bertambah, dan ia menangis keras. Akhirnya, kalau tikus itu muncul – walaupun tidak ada suara keras – Albert mulai menangis, membalik, dan berusaha menjauhi tikus itu. Kelak, ia bukan saja takut pada tikus, juga kelinci, anjing, baju berbulu, dan apa saja yang mempunyai kelembutan seperti bulu tikus. Albert yang malang sudah menjadi patologis. Watson dan Rayner bermaksud menyembuhkannya lagi, bila mungkin, tetapi Albert dan ibunya meninggalkan rumah perawatan, dan nasib Albert tidak diketahui.

Eksperimen Albert bukan saja membuktikan betapa mudahnya membentuk atau mengendalikan manusia, tetapi juga melahirkan metode pelaziman klasik. Pelaziman klasik adalah memasangkan stimuli yang netral atau stimuli terkondisi (tikus putih) dengan stimuli tertentu (yang tak terkondisikan) yang melahirkan perilaku tertentu. Setelah pemasangan ini terjadi berulang-ulang, stimuli yang netral melahirkan respon terkondisikan. Dalam eksperimen di atas, tikus yang netral berubah mendatangkan rasa takut setelah setiap kehadiran tikus dilakukan pemukulan batangan baja (yang tak terkondisikan).

Skinner menambahkan jenis pelaziman yang lain. Ia menyebutnya operant conditioning. Kali ini subyeknya burung merpati. Skinner menyimpannya pada sebuah kotak (yang dapat diamati). Merpati disuruhnya bergerak sekehendaknya. Satu saat kakinya menyentuh tombol kecil pada dinding kotak. Makanan keluar dan merpati bahagia. Mula-mula merpati itu tidak tahu hubungan antara tombol kecil pada dinding dengan datangnya makanan. Sejenak kemudian, merpati tidak sengaja menyentuh tombol, makanan turun lagi. Sekarang, bila merpati ingin makan, ia mendekati dinding dan menyentuh tombol. Sikap manusia seperti itu pula. Proses memperteguh respon yang baru dengan mengasosiasikannya pada stimuli tertentu berkali-kali, disebut peneguhan.

Dalam bahasa otak, percobaan yang dilakukan oleh Watson dan Skinner, hanyalah menyentuh bagian otak kecil pada manusia, atau yang sering disebut sebagai otak reptil. Di katakan otak reptil karena binatang reptil memiliki otak reptil yang sama dengan manusia. Otak reptil ini merupakan batang otak yang terletak di dasar otak, yang berhubungan dengan tulang belakang. Otak ini mewadahi pusat kendali, sistem saraf otonomi, dan untuk mengatur fungsi tubuh seperti denyut jantung dan napas. Otak reptil ini juga mengatur reaksi seseorang terhadap bahaya atau ancaman: misalnya lari atau lawan.

Otak reptil dirancang untuk bertindak atau bereaksi secara otomatis atau tanpa direncanakan. Bagian ini memberikan perlindungan dari serangan atau bahaya fisik. Saat otak reptil aktif, orang tidak akan bisa berpikir. Yang berperan dalam keadaan ini adalah insting atau cara berpikir dan bertindak berdasarkan hasil latihan. Otak reptil akan aktif bila seseorang merasa takut, stres, terancam, marah, kurang tidur, atau kondisi tubuh dan pikirannya lelah. Proses pembelajaran dibatasi hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan kelanjutan hidup.

Jika Anda memperhatikan seekor binatang – misalkan anjing – yang ketakutan, maka binatang tersebut akan lari terbirit-birit begitu melihat Anda. Ini terjadi disebabkan rasa takut yang tercipta dan ketidakberdayaan begitu melihat diri Anda. Lain halnya jika binatang tersebut memiliki kemampuan untuk melawan, maka kemungkinan besar binatang tersebut akan merespon dengan perlawanan begitu melihat Anda yang (seperti) mengancam kehidupannya.

Hal ini juga menjelaskan kenapa ada siswa yang begitu takut terhadap guru tertentu, (kalau bukan takut, melawan) dan pada guru yang lain merasa tenang. Respon pertama yang diberikan kepada siswa akan berperan penting pada perilaku yang ditimbulkan. Suasana nyaman akan tercipta ketika siswa berhadapan dengan guru yang baik hati, dan sebaliknya, suasana tegang akan tercipta ketika berhadapan dengan guru yang berlaku “kejam”.

Walaupun respon pertama (takut atau melawan) yang diberikan terhadap kondisi eksternal pada seseorang sering terjadi. Hal ini tidak menyebabkan bahwa seluruh perbuatan manusia hanya dikendalikan oleh otak reptil semata (takut atau melawan) dalam menghadapi kondisi eksternal tersebut. Selain otak reptil, manusia memiliki – dan tidak dimiliki oleh binatang – otak limbik yang mengatur emosi pada manusia, dan neo-corteks untuk berpikir.

Seperti yang kita lihat bersama, behaviorisme punya wawasan mendalam pada aspek otak reptil. Memang benar bahwa ada sebagian diri kita yang bersifat mekanis dan ritualistis, yang secara otomatis merespon berbagai rangsangan luar, yang dapat belajar cara memasukkan dan mengulang-ulang berbagai perilaku yang telah diprogram. Masalah behaviorisme adalah bahwa paham ini berlagak (sering secara sangat dogmatis) seolah membahas seluruh otak, padahal sesungguhnya hanya satu aspeknya.

Kita ini lebih dari sekedar fungsi mekanistis, reptilian, dan rangsangan/respon semata. Akan tetapi, behaviorisme tidak menyinggung hal ini. Sedikit sekali yang dibahasnya tentang kecerdasan sosial dan emosional (sistim limbik), dan lebih sedikit lagi tentang pikiran kreatif dan inovativ (neo-korteks). Dan paham ini sama sekali tidak tertarik menyelami kearifan yang tersembunyi di dalam jiwa.

Selain itu, keberhasilan Daniel Goleman dalam mengibarkan Emotional Intelligence (EI) telah membuktikan beberapa hal. Pendekatan EI ini mebuat manusia mampu untuk menggali potensinya lebih dalam dan lebih luas lagi. Kecerdasan emosi ini didefinisikan sebagai kemampuan untuk mendeteksi dan mengelola emosi diri sendiri maupun orang lain. Dengan kata lain, kecerdasan emosi membuat manusia dapat berikap pro aktif, yaitu kemampuan untuk memilih respon. Dan seperti yang telah kita bahas, bahwa binatang justru tidak memiliki sifat pro aktif ini. Binatang berespon secara langsung terhadap rangsang (stimulus) dari luar. Manusia berbeda. Dengan kecerdasan emosi manusia mampu mengelola respon. Ketika dipukul manusia juga merasa takut atau marah, namun bisa memilih respon untuk bersikap berbeda. Pura-pura berani padahal takut. Pura-pura takut padahal berani. Atau bahkan menunjukkan sikap bahagia dengan tersenyum. Merdekalah dalam memilih respon!


Sunday, August 23, 2009

BAGAIMANA AGAR TERHUBUNG SECARA EMOSIONAL DENGAN IMPIAN?



Seperti yang telah saya singgung pada artikel sebelumnya, yang berjudul: Benarkah Impian Itu Penting?; Pembahasan yang mengupas bahwa impian akan mudah terwujud jika kita memiliki keterikatan secara emosional dengan impian kita tersebut.

Nah, dalam artikel kali ini, saya akan mencoba sharing tentang cara agar kita bisa terikat secara emosional dengan impian kita. Berikut beberapa cara yang saya ketahui:

1. Di anggap remeh

Saya memiliki seorang teman yang sangat luar biasa. Dan bukan hanya seorang teman tapi juga beberapa teman yang luar biasa. Beberapa kawan saya ini berhasil mencapai impian mereka dan merupakan orang yang suka bekerja dan dan berbagi dengan orang lain. Kalau dilihat dari latar belakang mereka, biasa-biasa aja tuh. Maksud saya adalah mereka berasal dari keluarga ekonomi menengah bahkan ada yang dari kalangan ekonomi bawah. Ketika saya berdiskusi dengan mereka, satu hal menarik yang saya ketahui dan hal ini menjadi pola keberhasilan mereka. Yaitu, mereka sering dianggap remeh oleh orang lain. Di anggap remeh orang lain disini yang saya maksud adalah mulai dari kalangan keluarga mereka sendiri (tentunya keluarga mereka yang mapan) hingga oleh orang lain betulan (selain keluarga mereka). Tapi ajaibnya, ketika mereka dianggap remeh atau dipandang sebelah mata, mereka semakin terpacu untuk mewujudkan impian mereka. Mereka semakin terpacu untuk membuktikan bahwa mereka bisa dan mampu dan tidak seperti anggapan orang lain yang menganggap remeh mereka. Mereka-mereka inilah yang terikat secara emosional dengan impian mereka karena mereka ingin membuktikan kepada orang lain bahwa mereka bisa dan mampu menaikkan derajat ekonomi dan status sosial mereka.

2. Penderitaan ketika melihat orang tua

Ada begitu banyak kisah yang saya baca dan dengarkan tentang tipe orang yang sukses karena mereka termasuk keluarga yang kurang mampu. Ada begitu banyak kisah nyata tentang seorang anak yang berhasil mengangkat derajat ekonomi dan status sosialnya karena sebelumnya berada dalam keluarga kurang mampu dan ingin menolong orang tua dan keluarganya. Anda juga mungkin tahu beberapa kisah motivator yang berasal dari keluarga kurang mampu dan terpacu secara emosional untuk mewujudkan impiannya.

3. Penderitaan dalam keluarga

Ketika seseorang telah menikah, dan menjalani hidup yang kurang mapan, biasanya akan semakin terpacu untuk mewujudkan impiannya. Ada beberapa orang yang masuk ke dalam tipe ini. Mereka telah memiliki istri/suami dan anak, dan mereka begitu ingin membahagiakan mereka dan kemudian menjadi terpacu secara emosional mewujudkan impian mereka.

4. Menyukai satu bidang tertentu

Di dalam buku Outliers: The Story of Success, Malcolm Gladwell, memaparkan penelitiannya tentang orang-orang yang sukses. Salah satu faktor yang membuat seseorang bisa mewujudkan impiannya karena mereka begitu menyukai suatu bidang tertentu. Dalam bahasa Gladwell, mereka adalah orang-orang yang menekuni sebuah bidang selama 10.000 jam. Ketika seseorang mau dengan sukarela menekuni suatu bidang dalam kurun waktu 10.000 jam, maka bisa dipastikan bahwa mereka sangat menyukai bidang tersebut. Nah, bekerja pada suatu bidang yang sangat kita sukai akan mengikat emosi positif kita dengan impian yang ingin kita wujudkan, karena hal tersebut akan menjadikan kita ahli dibidang tersebut, dan memudahkan kita mencapai impian kita.

5. Re-programming

Ada begitu banyak orang yang mewujudkan impiannya, dengan ke-4 cara di atas. Mereka secara emosi positif terpacu untuk mewujudkan impiannya. Namun ternyata, masih ada lebih banyak lagi orang-orang yang memiliki impian, tapi kurang memiliki tenaga pendorong berupa emosi positif. Jika Anda termasuk kategori ini, maka disinilah pentingnya melakukan re-programming. Bisa jadi ada begitu banyak konflik mental yang terjadi. Bisa juga karena peristiwa trauma yang pernah menimpa. Atau bisa juga karena begitu banyaknya beban mental yang mengendap, sehingga menjadikan diri ini lumpuh dan tak bersemangat. Dan menariknya lagi, sekarang ada begitu banyak teknik untuk memaksimalkan potensi kita agar memudahkan kita mencapai impian. Ada begitu banyak teknik, yang bisa memicu emosi positif kita agar menjadi turbo dalam mencapai impian.

6. Makna spiritual

Dalam proses mencapai kesempurnaan dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan, setiap insan akan mencapai beberapa level pencapaian spiritual. Pencapaian level spiritual ini bergantung kepada niat dan konsistensi ibadah yang dilakukan. Nah, ada beberapa hamba Tuhan, yang berhasil mencapai level tertentu dan menemukan sebuah makna kehidupan yang luar biasa. Mereke berhasil mengetahui alasan dibalik ke-penciptaan manusia. Dan terlebih khusus lagi, mereka berhasil menemukan alasan kenapa diri mereka diciptakan di muka bumi ini. Mereka menemukan tujuan mereka di muka bumi ini. Mereka telah menemukan arah hidup mereka. Mereka berjalan ke arah hidup mereka dengan di dorong oleh sebuah emosi positif yang bermakna dan memberi arti bagi mereka dan orang lain. Mereka berjalan dengan landasan spiritual yang matang dan senantiasa memberikan arti dan manfaat kepada orang lain.

Dari beberapa uraian alasan yang telah kita bicarakan, dapatlah kita ambil kesimpulan bahwa impian itu ibarat sebuah arah dan tujuan. Tentu arah dan tujuan itu harus kita perbaharui terus-menerus agar jalan kehidupan kita tidak stagnan. Namun dalam mencapai arah tersebut, kita memerlukan sebuah tenaga pendorong yang harus selalu tetap tersedia. Tenaga pendorong ini adalah emosi positif kita. Emosi positif memberikan tenaga bagi kita agar kita berjalan menuju arah yang telah kita tentukan. Dengan demikian, memiliki sebuah impian (arah hidup) tak akan berarti banyak jika tanpa tenaga pendorong berupa emosi positif. Dan tenaga pendorong ini, sering juga disebut sebagai ALASAN DALAM MENJALANI HIDUP. SUKSES n BAHAGIA SELALU!