Sunday, November 14, 2010

TEMUKAN MAKNA KEHIDUPAN DI BALIK KEKECEWAAN

Belasan tahun yang lalu, saya dan seorang kawan mengendarai sebuah sepeda motor menuju ke suatu daerah di luar kota Makassar. Motor yang kami kendarai adalah motor dengan jenis mesin 2 tak. Saat itu saya memegang kemudi motor tersebut. Di saat kami tengah asyik menikmati perjalanan, dan di saat rumah-rumah penduduk sudah mulai jarang terlihat di sepanjang perjalanan, tiba-tiba kami dikejutkan dengan menyalanya sebuah lampu indikator berwarna merah yang terdapat di panel instrument.

Kami tahu bahwa lampu indikator berwarna merah tersebut menandakan bahwa oli samping motor yang kami kendarai sebentar lagi akan habis. Dan itu berarti kami hanya memiliki dua pilihan. Pertama, tidak peduli atau bahkan marah-marah serta menyesal menggunakan motor 2 tak, atau kedua, mulai berdoa dan mengundurkan kecepatan motor serta berharap-harap cemas, semoga kami segera menemukan stasiun pengisian bahan bakar atau paling tidak penduduk setempat yang menjual bensin sekaligus oli samping. Jika pilihan pertama yang kami ambil, maka kamilah yang akan menyesal kemudian, juga akan menjadi sangat kerepotan dengan dengan keadaan tersebut. Karena jika sampai oli samping motor tersebut betul-betul habis, maka bukan hanya mesin motornya yang rusak, kami pun akan begitu kerepotan melanjutkan perjalanan, terlebih lagi rumah-rumah penduduk sudah mulai jarang terlihat.

Waktu itu, saya sempat panik, kawan saya pun sempat panik, karena kami tahu persis apa yang akan terjadi kepada mesin motor jika sampai oli sampingnya habis total. Jadi, kami pun mengambil langkah kedua. Kami mulai berdoa dalam hati, mulai mengurangi kecepatan motor, dan berharap-harap cemas agar segera menemukan penjual oli samping. Beruntunglah waktu itu, sekitar 15-20 menit perjalanan, kami menemukan penduduk setempat yang menjual bensin sekaligus oli samping. Kami segera membelinya, dan akhirnya perjalanan kami pun lancar kembali.

Perjalanan di kehidupan ini pun kurang lebih sama dengan perjalanan kami di atas. Allah swt sudah merancang diri kita laksana sebuah “mesin” yang tangguh dalam mengarungi perjalanan kehidupan ini. Tentunya manusia tidak sama dengan mesin motor, oleh sebab itu kata “mesin” saya beri tanda kutip. Namun prinsip kerja emosi kita memiliki kemiripan dengan panel instrument pada kendaraan bermotor. Sistem emosi kita tidak memberikan sinyal kepada kita berupa kata-kata, tapi memberikan sinyal peringatan kepada kita melalui emosi-emosi yang kita rasakan. Dalam tulisan ini, salah satu sinyal emosi yang sering muncul kepada kita adalah KECEWA. Apa sih maksud munculnya perasaan kecewa ini pada kita? Inilah yang akan kita bahas pada tulisan kali ini.

Saya percaya, Anda pernah merasa kecewa. Jika Anda sama sekali tidak pernah merasa kecewa berarti sistem emosi Anda kemungkinan besar rusak. Anda ibarat mayat hidup yang berjalan tanpa adanya emosi. Padahal, kehidupan ini justru penuh warna, karena adanya sistem emosi pada diri kita. Kadang-kadang kita kecewa, eh … kadang-kadang kita bahagia. Inilah warna-warna kehidupan. Bisa Anda bayangkan jika Anda tidak memiliki emosi sama sekali. Anda tentu tidak bisa merasakan kekecewaan sekaligus juga tidak bisa merasakan kebahagiaan. Dalam penelitian dibidang neurosains, orang-orang yang sistem emosinya rusak, merupakan orang-orang yang hidup tanpa makna dan warna kehidupan. Beberapa orang kemudian menjadi psikopat kelas kakap.

Nah, perasaan kecewa yang muncul seperti lampu indikator berwarna merah yang ada pada penel instrument motor yang kami kendarai tadi. Emosi kecewa sesungguhnya merupakan signal bahwa ada sesuatu di dalam pikiran dan hati kita yang salah dan berjalan tidak sebagaimana mestinya. Itulah sebabnya muncul perasaan kecewa. Lebih tepatnya, perasaan kecewa muncul karena ada kesenjangan antara harapan kita dan kenyataan hidup yang tengah kita jalani. Ketika perasaan kecewa ini muncul, maka Anda pun hanya memiliki dua pilihan. Pertama, marah-marah dengan keadaan dan orang-orang di sekitar Anda, atau kedua, belajar menemukan makna kehidupan ini. Jika langkah pertama yang Anda ambil, maka seperti mesin motor, pikiran dan hati Anda pun akan semakin rusak (dalam bahasa agama, memiliki hati yang kotor). Tapi jika Anda membuka diri dan belajar menemukan makna, maka pikiran dan hati Anda pun akan semakin jernih, dan Anda akan semakin mudah dan menikmati mengarungi kehidupan ini hingga akhir hayat memanggil.

Agar lebih menarik, maka mari kita lihat kerja emosi kecewa ini di dalam otak kita. Kita akan membahas hasil-hasil penelitian di bidang neurosains. Bagian otak yang bernama prefrontal cortex adalah bagian otak yang selalu men-scan setiap detik-detik kehidupan kita. Bagian otak ini letaknya dibalik dahi Anda. Bagian ini ibarat mata ketiga Anda yang selalu memantau setiap detik kehidupan Anda. Seperti yang kita ketahui, otak kita bekerja dengan cara menciptakan hubungan-hubungan antar sel otak (antar neuron). Hubungan antar neuron ini tercipta dengan bantuan sejenis zat kimia yang disebut neurotransmitter, atau zat kimia yang berfungsi menyampaikan pesan dari satu syaraf ke syaraf lainnya. Salah satu neurotransmitter di dalam otak kita adalah dopamin. Neurotransmitter dopamin ini merupakan neurohormon yang berperan mengatur emosi-emosi kita; suatu senyawa molekul yang menciptakan perasaan-perasaan kita.

Jika dopamin diproduksi dalam jumlah yang banyak, maka Anda akan merasa senang dan bahagia. Akan tetapi jika jumlah dopamin berkurang di dalam otak Anda, maka Anda akan merasa sedih dan kecewa. Nah, bagaimana sih kerja neuron-neuron dopamin ini? Mari kita lihat penelitian yang dilakukan oleh Wolfram Schultz dari Universitas Cambridge. Tanpa sengaja Schultz, menemukan kerja neuron dopamin ini pada eksperimen pemberian hadiah kepada kera-kera percobaannya. Dalam penelitiannya, Schultz membunyikan suatu suara keras, menunggu beberapa detik, dan kemudian memberikan beberapa tetes jus apel ke mulut seekor kera. Awalnya, neuron dopamin ini bergerak ketika tetes-tetes jus apel tersebut diberikan. Namun, hanya dengan beberapa kali percobaan saja, kera-kera itu menunjukkan aktivatas neuron dopamin yang menarik. Hanya cukup dengan membunyikan suara keras saja, neuron-neuron dopamin yang sama akan mulai bergerak, bukan lagi bergerak di saat mendapatkan hadiah berupa tetes-tetes jus apel.

Dalam penelitiannya, Schultz melihat pola kerja yang sangat menarik pada neuron dopamin kera-kera tersebut. Cara kerja neuron dopamin lebih mirip kepada aktivitas mem-prediksi hadiah ketimbang benar-benar mendapatkan hadiah tersebut. Menariknya lagi, kera-kera yang diberi hadiah berupa makanan tanpa membunyikan suara keras sebelumnya, menunjukkan aktivitas neuron dopamin yang mulai bergerak sesaat sebelum mereka betul-betul mendapatkan makanan tersebut. Dengan kata lain, neuron dopamin mereka bekerja dan mulai memprediksi – bahwa mereka akan mendapatkan makanan sebentar lagi – sebelum mereka betul-betul mendapatkan makanan. Cara kerja sistem ini menyangkut EKSPEKTASI (harapan), dan membuat pola berdasarkan pengalaman: jika ini, maka itu. Jika bel dibunyikan, maka mereka mem-prediksi bahwa sebentar lagi akan segera mendapatkan makanan. Dan jika prediksi kera-kera tersebut benar, maka sejumlah besar dopamin akan keluar dan hal ini akan menimbulkan perasaan senang dan membahagiakan.

Namun ketika prediksi kera-kera tersebut keliru (kera-kera tersebut mendengar suara keras, tapi dalam penantian, kera-kera tersebut tidak mendapatkan sama sekali tetes-tetes jus), maka jumlah gerakan-gerakan neuron dopaminnya akan menurun. Dan hal ini akan menyebabkan jumlah dopamin berkurang, dan akan melahirkan kesedihan dan kekecewaan. Dengan kata lain, telah terjadi salah prediksi. Neuron-neuron dopamin mendapatkan sinyal salah prediksi.

Setelah melalui serangkaian pengalaman yang begitu banyak, maka kera-kera ini pada akhirnya mahir melakukan prediksi dengan tepat. Dengan kata lain, neuron-neuron dopamin mereka telah membuat pola-pola prediksi yang baru dan akurat, setelah membandingkan serangkaian prediksi yang benar dan prediksi yang keliru. Dan pola-pola neuron dopamin ini terjadi pada level bawah sadar. Artinya, terjadi tanpa si kera menyadarinya. Pada akhirnya, kera-kera ini mengetahui, bahwa jika situasinya berjalan sempurna, maka neuron-neuron dopamin akan bergerak dan memberikan sensasi kesenangan, dan akhirnya mereka akan mendapatkan hadiah. Namun, jika situasinya tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka sel-sel otak ini langsung mengirimkan sinyal salah prediksi, dan berhenti mengeluarkan dopamin. Hal ini akan menimbulkan suatu perasaan sedih dan kecewa, atau mungkin juga suatu kecemasan.

Nah, bagaimana dengan kehidupan ini? Setiap kali Anda membuat kesalahan atau menjumpai sesuatu yang baru, neuron-neuron dopamin sibuk mengubah diri mereka. Sel-sel otak ini juga mengukur kesenjangan antara harapan dan hasil. Mereka belajar dari kesalahan-kesalahan mereka sendiri untuk meningkatkan performa mereka; kegagalan akhirnya diubah menjadi keberhasilan. Karena pada manusia ada pilihan hidup, maka tentunya hal ini akan terjadi jika Anda mau belajar dan membuka diri terhadap berbagai perubahan dalam hidup.

Para master dalam bidang tertentu bekerja berdasarkan prinsip kerja neuron dopamin ini. Garry Kasparov, grand master catur, menjadi sangat ahli dalam bermain catur karena dia selalu menonton kembali pertandingan-pertandingan yang pernah dilaluinya. Dia menonton untuk kemudian mencari-cari kesalahan yang ia buat ketika bermain catur. Hal ini selalu membuat dia belajar dan memperbaiki langkah-langkah catur yang mumpuni. Di dalam otak Garry Kasparov, yang terjadi ketika ia menonton ulang pertandingannya adalah neuron-neuron dopamin kemudian membuat pola-pola prediksi baru, agar menciptakan suatu pola prediksi langkah catur yang benar dan akurat.

Neuron-neuron dopamin secara otomatis mendeteksi pola-pola stimulus. Mereka menyerap semua data yang tak dapat kita tangkap secara sadar. Kemudian, sesudah merevisi prediksi-prediksi tentang dunia nyata, mereka menerjemahkan prediksi-prediksi ini menjadi emosi-emosi. Kegagalan, kesalahan, kekecewaan, bersifat mendidik. Latihan yang tekun akan menghasilkan intuisi yang cerdas. Dengan kata lain, semakin banyak kegagalan dan kekecewaan yang menimpa Anda, dan Anda secara seksama mempelajarinya, maka Anda akan semakin AHLI. Karena perasaan-perasaan negatif dan menyakitkan yang Anda rasakan ketika berbuat kesalahan, justru membuat otak Anda me-REVISI model-modelnya. Dengan kata lain, sebelum berhasil, neuron-neuron dopamin harus gagal berkali-kali.

Coba Anda perhatikan para sales terbaik. Mereka adalah orang-orang yang kenyang makan asam garam komunikasi dengan orang lain. Jika kita memperhatikan para sales terbaik itu, mereka adalah orang-orang yang dengan mudahnya membangun keakraban dengan orang lain, sebelum pada akhirnya berhasil menciptakan sebuah transaksi yang menguntungkan. Nah, bagaimana caranya mereka menjadi sales terbaik? Sudah pasti dengan cara bertemu dengan orang-orang baru setiap hari. Mungkin pada awalnya mereka rada kaku dalam berkomunikasi dengan orang-orang yang baru mereka kenal. Awalnya mereka kecewa karena prediksi komunikasi mereka keliru. Tapi setelah melalui serangkaian pengalaman bertemu dengan orang-orang baru, maka neuron-neuron dopamin mereka mulai mahir menciptakan pola-pola prediksi secara akurat, dan menghasilkan komunikasi yang akrab. Tentunya berakhir dengan penjualan yang sukses.

Yang perlu diingat adalah bahwa neuron dopamin kita akan bekerja dengan baik, jika kita mau belajar dan membuka diri terhadap berbagai perubahan yang mungkin kita alami. Garry Kasparov tidak akan mungkin menjadi grand master catur, jika ia larut dalam kekecewaan yang dirasakannya. Atau sales terbaik tidak akan mungkin berhasil meningkatkan penjualannya, jika selalu larut dalam kecewa ketika bertemu orang-orang baru dan “gagal” menciptakan suasana akrab.

Jadi ketika Anda kecewa, maka pada dasarnya emosi ini hadir untuk memberitahu kepada Anda bahwa terdapat kesenjangan antara harapan Anda dan kenyataan yang diterima. Dan emosi ini memberitahu kepada Anda untuk segera belajar dan membuka diri terhadap kenyataan hidup. Bukan dengan marah-marah dan larut dalam kekecewaan yang semakin pahit.

Jika kita melihat ini lebih luas lagi, maka ternyata kehidupan ini sudah dirancang sedemikian rupa, agar fase-fase kehidupan kita ini di selingi dengan beberapa kekecewaan, yang merupakan sebuah signal bagi kita bahwa jalan yang kita pilih sudah tepat, hanya saja kita perlu fleksibel dalam menyikapi kehidupan. Sewaktu workshop, saya sering memberi contoh kehidupan pernikahan.

Jika libido masih dalam kadar full, maka prediksi-prediksi (harapan) kita terhadap pasangan selalu tepat, dan ini akan melahirkan kesenangan dan kebahagiaan. Namun biasanya, ketika libido sudah mulai tersalurkan, maka biasanya prediksi-prediksi (harapan) kita terhadap pasangan mulai tidak tepat. Maka akan muncullah serangkaian kekecewaan. Suami mulai merasa kecewa terhadap istrinya, dan istrinya pun mulai kecewa terhadap suaminya. Jika perasaan kecewa berusaha untuk dihindari, maka Anda pasti akan semakin larut dalam kekecewaan, dan semakin menyalahkan keadaan dan pasangan Anda. Dalam kondisi tertentu, Anda mulai merasa bahwa jalan kehidupan yang Anda tempuh mulai salah. Dan karena Anda merasa jalan hidup Anda mulai keliru, maka Anda cenderung membuat jalan kehidupan yang baru, dengan harapan Anda akan berhenti merasa kecewa. Tapi pertanyaannya adalah: Apakah ketika Anda membuat jalan baru kehidupan, Anda tidak akan kecewa lagi? Jawabannya sudah pasti TIDAK. Karena kecewa itu terjadi ketika neuron dopamin Anda salah prediksi, dan karena kehidupan ini merupakan perjalanan yang panjang dan belum diketahui ujungnya, maka sudah pasti akan selalu ada gap antara harapan Anda dan kenyataan hidup yang Anda lalui.

Jadi bagaimana seharusnya? Ingatlah selalu bahwa emosi kecewa adalah sebuah sinyal yang dikirimkan agar Anda merasakannya. Dan ketika Anda merasakan kecewa, maka percayalah, ada gap antara harapan Anda dan kenyataan yang Anda lalui. Ada gap antara harapan Anda terhadap pasangan dan kenyataan yang Anda terima. Karena kehidupan ini sudah dirancang oleh-Nya agar kita menjadi AHLI MANUSIA (menuju kesempurnaan), maka langkah pertama adalah akuilah perasaan kecewa itu karena itu berarti Anda sudah berada dijalan yang benar. Kemudian belajarlah menciptakan pola-pola hubungan baru dengan pasangan Anda, dan terimalah suasana perubahan itu, terimalah kenyataan hidup Anda. Berhentilah menyalahkan keadaan dan orang-orang di sekeliling Anda.

Begitu juga bagi Anda yang salah prediksi terhadap seorang pria/wanita dalam kehidupan Anda, atau salah prediksi tentang sahabat Anda, saudara Anda, bahkan orang tua Anda dan juga kehidupan ini, pilihan Anda yang terbaik adalah BELAJAR MENYIKAPI KEHIDUPAN INI. Bersikaplah dengan penuh toleransi terhadap orang lain dan kehidupan. Rasa kecewa adalah sebuah signal, bahwa Anda harus mulai lagi menata kehidupan Anda. Mencari “stasiun pengisian bahan bakar terdekat”, agar Anda bisa segera mengisi “oli” baru dalam kehidupan Anda, sehingga Anda akan bahagia dan menikamati perjalanan kehidupan ini. SUKSES DAN BAHAGIA SELALU UNTUK ANDA!

Wednesday, August 4, 2010

MAAFKAN DIRIKU!


Mendekati bulan ramadhan ini, dapat kita lihat ada semacam tradisi pada sebagian besar masyarakat untuk datang ke kuburan. Tentunya mereka datang untuk mendoakan keluarga mereka yang telah meninggal. Selain itu, dapat pula kita temukan suatu fenomena pemanfaatan teknologi, yaitu SMS yang dikirim ke kerabat dan handai taulan untuk saling maaf-memaafkan. Kadang sebagian manusia itu lucu juga. Karena biasanya SMS permohonan maaf itu dikirimkan ke keluarga dan sahabat yang belum tentu kita berbuat khilaf. Mungkin saja ada ke-khilafan yang tanpa disadari yang pernah kita lakukan. Tapi yang saya maksud lucu adalah, bagaimana dengan keluarga atau sahabat yang betul-betul memang ada sedikit perselisihan dan kemudian menjadi masalah besar? Apakah mereka-mereka itu juga sudah kita kirimkan SMS permintaan maaf, di saat ramadhan yang sebentar lagi tiba.

Saya sih ndak mau berbicara tentang manfaat dan mudharat ketika memberi dan meminta maaf atau tidak mau memaafkan sama sekali. Biarlah hal itu menjadi urusan para penceramah. Tentunya ada sangat banyak ayat Al-Qur’an dan riwayat-riwayat hadis yang berkenaan dengan kata “maaf”. Tapi kali ini saya ingin membahasnya dari sudut pandang teknologi pikiran.

Kenapa sih sulit sekali untuk memaafkan orang lain atau meminta maaf? Dari sudut pandang psiko-analisa, akan dikatakan bahwa kita sudah dari kecil diajarkan untuk merasa gengsi untuk meminta maaf terlebih dahulu. Sudah terlalu sering diajarkan bahwa meminta maaf akan menjatuhkan harga diri kita, apalagi jika kita merasa bahwa kita-lah yang benar dalam masalah tersebut.

Itu menurut psiko-analisa. Tapi, saya ingin membahasnya lebih kepada cara kerja pikiran kita. Penelitian dibidang neuro-sains semakin membuktikan bahwa “emosi” memegang peranan sangat penting dalam melakukan suatu tindakan tertentu. Emosi kita-lah yang menjadi motivator bagi kita untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Sebagai contoh, malas. Bukankah salah satu hal yang membuat kita cenderung menunda adalah karena setiap kali kita ingin melakukan action, selalu saja ada emosi tertentu yang membuat kita merasa enggan melakukan action, yang biasanya kita sebut sebagai malas. Tentunya bukan hanya malas, rajin juga merupakan sebuah istilah yang kita sebutkan ketika kita merasakan suatu emosi bahagia campur aduk dengan semangat tinggi untuk melakukan action.

Atau misalkan, dihadapan Anda sekarang ada remote TV dan batu sebesar genggaman tangan. Anda diminta untuk memilih salah satunya saja, untuk melakukan suatu action, yaitu melempar mangga yang letaknya di bagian atas sebuah pohon mangga. Anda pilih yang mana? Kebanyakan orang, tentu akan memilih sebuah batu sebesar genggaman tangan. Walaupun hal ini Anda lakukan tanpa Anda sadari, penelitian sudah membuktikan bahwa terdapat suatu dorongan emosi tertentu yang membuat Anda memilih batu dibandingkan remote TV untuk melempar mangga.

Nah, dorongan yang terjadi tanpa Anda sadari ini merupakan suatu dorongan “emosi” tertentu di dalam diri Anda. Dan “emosi” kita senantiasa mengikuti persepsi/keyakinan kita. Jika di level bawah sadar, tanpa Anda sadari, Anda memiliki keyakinan bahwa meminta maaf itu membuat harga diri kita jatuh, maka akan selalu ada sebuah dorongan “emosi” tertentu yang membuat Anda sama sekali enggan untuk memberi maaf, apalagi meminta maaf terlebih dahulu.

Walau mungkin secara rasional, Anda menginginkan suatu tindakan memaafkan, tapi entah bagaimana, selalu ada dorongan yang “irasional”, yang membuat Anda tidak mau memaafkan dirinya. Sebenarnya dorongan “irasional” di dalam hati Anda itu juga bersifat sangat rasional. Mari kita mengambil sebuah analogi komputer. Ketika asyik-asyiknya Anda menggunakan komputer Anda, eh … tiba-tiba komputer Anda secara otomatis melakukan proses shut down sendiri. Anda kemudian meng-ON-kan kembali komputernya. Dan terjadi lagi, sedang asyik-asyiknya Anda main game, tiba-tiba shut down kembali. Anda kemudian rada jengkel dan meminta tolong teman yang jago betulin komputer. Bukan hanya jago betulin, juga jago utak-atik program komputer (btw … ada teman saya yang jago betulin dan utak-atik komputer, tinggalnya di MU).

Setelah Anda bawa ke teman Anda. Dia mengatakan bahwa ternyata komputer Anda ter-infeksi virus bronthok. Teman Anda itu kemudian berkata lagi bahwa jika virus bronthoknya masih ada, maka komputer Anda akan selalu shut down sendiri ketika di-ON-kan. Kemudian dia menjelaskan bahwa virus adalah sejenis program yang melakukan sebuah sabotase pada program-program di komputer Anda. Untuk mengatasinya, maka harus dilakukan sebuah proses “mengubah” program virus tersebut, agar virusnya tidak bisa lagi melakukan proses intervensi terhadap berbagai program di komputer Anda. Kalau bahasa sederhanya sih, teman Anda akan menyuruh Anda menggunakan program anti virus yang terbaru agar virusnya lenyap.

Nah pembaca. Proses di level bawah sadar kita itu kayak analogi di atas. Selalu ada semacam “sabotase” yang selalu membuat kita bertindak “irasional” untuk tidak mau memberi maaf atau meminta maaf. Secara rasional kita tahu apa itu “maaf”, dan kita tahu pula bahwa meminta maaf itu baik dan jika tidak memaafkan itu tidak baik. Tapi … itu tadi … selalu ada dorongan “irasional” yang membuat kebanyakan dari kita sangat sulit untuk memaafkan atau meminta maaf.

Hal itu terjadi karena ada semacam program “virus” yang bercokol di level bawah sadar kita. Bukankah virus komputer pun selalu bekerja pada level under-program? Nah, dengan melakukan suatu modifikasi program pada “virus” mental, maka percayalah RASA SULIT DAN BERBAGAI RASA ENGGAN UNTUK MEMAAFKAN DAN MEMINTA MAAF itu pasti akan hilang, dan tergantikan dengan rasa ingin meminta maaf dan memberi maaf.

Wow … betapa indahnya hidup ini dengan meminta maaf dan memberi maaf atas semua khilaf yang mungkin pernah kita lakukan. MAAFKAN KAMI SEKELUARGA YA!


Thursday, March 11, 2010

SECANGKIR TEH DAN MAKNA HIDUP


Baru-baru ini saya mendengar sebuah kisah dari seorang professor yang luar biasa. Beliau menceritakan sebuah kisah tentang gurunya sendiri. Pernah suatu hari datang seorang pemuda yang menanyakan tentang makna hidup. Guru tersebut tidak langsung menjawab pertanyaan pemuda tadi, tapi kemudian menyuguhkan teh yang diisi di dalam beberapa cangkir yang berbagai rupa. Ada cangkir yang terbuat dari emas, ada yang dari tanah liat, ada berbentuk sangat bagus, ada yang warnanya kusam. Yang jelas terhidanglah beberapa cangkir teh yang berbeda-beda jenis cangkirnya.

Walaupun cangkirnya berbeda-beda, tapi setiap cangkir tersebut diisi teh yang sama. Kemudian dipersilahkan-lah pemuda tadi untuk memilih secangkir teh dari salah satu cangkir yang dihidangkan kepadanya. Pemuda tadi kemudian memilih cangkir yang sangat bagus dan kemudian meminum teh dari cangkir tersebut.

Guru tersebut pun berkata, “Hanya untuk teh saja, setiap orang itu memilih untuk meminumnya dari cangkir yang terbaik. Maka bagaimanakah dengan hidupmu yang sangat berharga ini? Pilihlah jalan yang penuh makna untuk hidupmu yang berharga”.

Mendengar kisah tadi saya tersentak akan diri saya. Kenapa? Karena untuk setiap makanan yang ingin saya makan, saya selalu memilih yang terbaik. Hal ini menyadarkan diri saya bahwa hidup ini jauh lebih berharga dan oleh sebab itu saya harus memilih jalan yang terbaik dan penuh makna, dan bukan memilih jalan yang biasa atau buruk untuk hidup yang sangat berharga ini.

Lantas bagaimanakah memilih jalan yang penuh makna untuk hidup yang berharga ini? Saya langsung teringat kisah lain tentang Rasulullah saw. Beliau selalu mengerjakan shalat malam, dan pernah suatu ketika beliau bangun melakukan shalat malam, dan kemudian bersujud dan menangis hingga fajar tiba. Dan ketika beliau selesai memimpin shalat shubuh jama’ah di mesjid, salah seorang sahabat yang melihat mata beliau sembab yang dikarenakan oleh shalat, berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah engkau adalah kekasih Allah dan engkau dijamin dunia dan akhirat, kenapa lagi harus shalat hingga sedemikian rupa? Rasulullah saw pun menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur”.

Saya pernah berdiskusi dengan istri saya tentang apa itu cinta. Secara defenisi begitu sulit bagi saya untuk mendefenisikan apa itu cinta, dan saya berkata kepada istri saya bahwa cinta yang hakiki itu hanya kepada Allah. Kita mencintai orang lain itu karena kecintaan kita kepada Allah. Dan bagaimanakah kita mencintai Allah tersebut? Saya kemudian berkata kepada istri saya bahwa cinta itu tidak muncul begitu saja. Cinta itu harus diaktualkan dengan penuh kesadaran diri. Karena cinta yang hakiki itu hanya kepada Allah saja, maka kita pun harus mencintai Allah dengan sepenuh hati. Kita dianjurkan untuk meng-aktualkan cinta kita kepada-Nya dengan melakukan shalat dan ibadah-ibadah lainnya yang diperintahkan kepada kita. Jadi menemukan makna hidup itu adalah sebuah jalan yang penuh kesadaran diri. Secara sadar kita memilih untuk beramal shaleh dan berbuat baik kepada orang lain. Kita diperintahkan untuk shalat dan melakukan ibadah lainnya. Melakukan semua hal ini dengan penuh kesadaran diri berarti kita mengaktualkan cinta kita untuk bersemi kepada-Nya.

Lantas, bagaimanakah kita tahu bahwa kita betul-betul mencintai Allah swt? Kita akan mengetahuinya jika kita telah mengalami kerinduan yang luar biasa kepada-Nya. Saat itulah kita tahu bahwa kita jatuh cinta kepada-Nya. Seperti yang dikatakan oleh Rasulullah saw, “Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur”.

Dengan demikian menemukan makna hidup adalah memilih jalan untuk melakukan sebuah upaya kebaikan terus-menerus dengan penuh kesadaran diri. Seperti cinta, makna hidup tidak bisa hanya ditemukan begitu saja tanpa upaya berbuat baik dengan kesadaran diri.

Satu-satunya hal yang membuat kita memilih jalan lain sehingga menjerumuskan diri kita adalah ego kita sendiri. Ego ke-aku-an yang kecil dan ingin disanjung. Kebanyakan manusia selalu menjadikan segala sesuatunya berpusat hanya pada dirinya semata. Semua hal diluar dirinya selalu diarahkan hanya untuk memenuhi ke-aku-anya semata.

Ketika berbicara tentang cinta kepada pasangannya, mereka selalu ingin agar pasangan-nyalah yang harus memerhatikan dirinya. Ketika pasangan-nya melakukan hal itu, maka ia semakin mencintainya. Tapi kalau pasangan-nya kurang memerhatikan dirinya, maka ia mulai merasakan kehilangan rasa cinta. Pada dasarnya rasa tersebut jika demikian adanya bukanlah cinta, melainkan sebuah rasa “kekosongan” dihati yang butuh secercah cahaya Ilahi. Kebanyakan orang “mengisi kekosongan” hati tersebut dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan yang sifatnya sementara. Atau “memaksa” orang lain untuk mengikuti apapun keinginannya sehingga merasa diperhatikan.

Padahal seperti halnya cinta kepada Allah swt yang harus di-aktual-kan dengan berbuat baik dan beramal salah dengan penuh kesadaran diri, cinta kepada pasangan pun demikian. Kita akan dengan mudah mencintai pasangan dengan sangat dalam ketika kita melatih diri kita menjadi lebih dewasa dalam menjalani hidup ini. Bukankah cara kerja otak laki-laki dan perempuan itu berbeda? Yah karena berbeda, maka diperlukan kesabaran untuk senantiasa melatih ego ke-aku-an untuk menjadi lebih dewasa. Dan percayalah, ketika hal ini dilakukan, maka rasa cinta kepada pasangan pun akan semakin terasa.

Inilah kehidupan. Bukankah kita telah dianugerahkan berbagai potensi yang luar biasa. Menjalani hidup ini bukanlah laksana robot atau mayat hidup, dimana hidup ini akan selalu terasa hampa dan kosong. Agar bermakna, dibutuhkan upaya sadar untuk memilih melakukan hal-hal baik, sehingga rasa cinta kepada-Nya ter-aktual. Dengan mengutip kata Rasulullah saw: TIDAK BOLEHKAH AKU MENJADI HAMBA YANG BERSYUKUR?