Thursday, February 8, 2018

The map is not the territory: SIAPA BILANG?

Judul di atas adalah salah satu dari asumsi NLP. Bahkan judul di atas, biasanya, ditempatkan dalam asumsi NLP urutan pertama. Namun saya menolak asumsi itu. Penolakan saya bukan berarti bahwa saya tidak tahu tentang NLP (karena dalam ilmu filsafat hikmah, jangan pernah membuat penolakan jika kita tidak tahu tentang ilmunya terlebih dahulu), juga bukan berarti bahwa asumsi itu tidak benar (justru sangat benar). Tapi, saya ingin mengajak Anda untuk melihat dari sisi yang agak berbeda, namun memiliki muara yang sama.

Asumsi NLP ini, secara sederhana dapat diartikan sebagai: peta mental seseorang tentang dunia (realitas internal) bukanlah dunia itu sendiri (realitas eksternal). Saya tidak perlu menguraikan defenisi di atas secara panjang lebar lagi, karena Anda bisa membaca buku-buku atau artikel-artikel di internet yang berkenaan dengan pembahasan tersebut. Saya hanya ingin mengajak Anda untuk melihat tentang bagaimana filsafat memandang ilmu itu sendiri, biasanya disebut sebagai epistemologi, sedangkan orang barat menyebutnya sebagai teknik berpikir (ilmu dari ilmu itu sendiri). Namun kali ini saya tidak akan menggunakan pendekatan barat, karena ada beberapa hal utama yang tidak di bahas dalam teknik berpikir ini.

Mari kita mulai untuk membahasnya. Secara sederhana, peta (persepsi) seseorang terhadap kejadian (realitas) itu tidaklah persis sama dengan kejadian yang sesungguhnya. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa setiap kejadian itu bersifat netral. Kita-lah sebagai manusia yang kemudian memberikan makna terhadap kejadian tersebut. Apapun makna yang kita berikan terhadap kejadian tersebut itu disebut sebagai peta dalam NLP. Dan peta setiap orang itu berbeda-beda. Boleh jadi dalam satu kejadian, setiap orang memiliki peta (persepsi/pemberian makna kepada kejadian) yang berbeda-beda. Setiap peta yang dipegang oleh seseorang tentu juga menentukan bagaimana orang tersebut. Dan untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan, maka setiap orang perlu merubah peta-nya yang tidak sesuai dengan tujuan hidupnya. Secara sederhana, dapat kita gambarkan juga bahwa peta itu menentukan seberapa sukses dan bahagianya seseorang. Terlepas dari penjelasan yang baru saja saya berikan, terdapat satu hal yang sedikit bertolak belakang, yaitu bahwa tidak selamanya sebuah peta (persepsi/pemberian makna) itu tidak sama dengan wilayah (kejadian/peristiwa). Anda mungkin kaget?

Memang benar bahwa ada satu atau beberapa peta yang sama persis dengan wilayahnya. Sebelum kita membahasnya lebih jauh, saya ingin menjelaskan dulu latar belakang pemikiran ini.
Sejak dulu manusia ingin mengetahui siapa dirinya, ingin mengetahui darimana ia berasal, dan apakah Tuhan itu ada atau tidak. Dalam perjalanan pencarian tersebut, maka lahirlah begitu banyak aliran pemikiran yang membahas mengenai hal tersebut. Salah satu yang sangat terkenal di dunia barat (bahkan menjadi tonggak lahirnya dunia modern), yaitu aliran pemikiran yang dibawa oleh Rene Descartes. Descartes banyak dikenal orang dengan kalimat bijaksananya: Cogito Ergo Sum atau Saya berpikir, maka saya ada. Asumsi ini terlahir setelah melalui perjalanan panjang dalam meragukan diri sendiri. Descartes awalnya meragukan segala hal, hingga akhirnya ia sampai pada satu pemikiran bahwa terdapat satu hal yang tidak bisa diragukannya, yaitu dirinya sendiri. Maka lahirlah ungkapan itu. Dari asumsi sederhana itu, maka lahirlah landasan pemikiran dunia modern yang berdiri di atas tonggak pemikiran ilmiah (eksperimental). Itulah sebabnya, Rene Descartes disebut sebagai Bapak Dunia Modern.

Berbeda dengan pemikiran di dunia barat, di dunia timur pun mengalami perkembangan pemikiran. Perlu untuk diketahui bahwa setiap orang melakukan komunikasi, setiap orang memiliki pemikiran tentang sesuatu, bahkan ketika berbicara tentang Tuhan pun menggunakan hasil pemikiran kita; maka dari situlah awal dari pencarian untuk mengetahui bagaimana pemikiran kita ini ada, atau bagaimana kita bisa memiliki pengetahuan ini. Manusia ingin mengetahui bagaimana pemikirannya ini bisa muncul dalam dirinya. Inilah yang disebut ilmu tentang ilmu atau epistemologi (teori pengetahuan). Perkembangan pemikiran di dunia timur ini, yang awalnya dari epistemologi kemudian berkembang tentang pemikiran dalam pembuktian Tuhan, bahkan berkembang hingga pemikiran tentang “kehadiran”. Apa itu “kehadiran”? Saya akan menjawabnya dengan menggunakan contoh saja ya. Jika sebelumnya Anda belum pernah melihat gula pasir, maka ketika Anda bertanya: Apa itu gula pasir? Maka orang-orang yang mencoba menjelaskan kepada Anda tentang gula pasir itu akan menggunakan kalimat-kalimat, atau contoh-contoh, atau analogi untuk menjelaskan tentang gula pasir. Nah, cara mentransfer pengetahuan seperti ini disebut hushully atau mentransfer pengetahuan dengan menggunakan media (kalimat, alat peraga, atau analogi). Tapi, jika seseorang mendatangkan kepada Anda gula pasir, dan kemudian Anda melihat, meraba, bahkan merasakannya, maka pengetahuan Anda tentang gula pasir itu disebut hudhury atau pengetahuan yang hadir atau Anda mengetahui tentang sesuatu tanpa menggunakan media lagi, karena sesuatu tersebut telah “hadir” kepada Anda secara langsung.

Kembali ke pembahasan kita; dalam filsafat barat ketika berbicara tentang epistemologi, sebuah pengetahuan masuk kepada seseorang itu melalui kelima indera. Dalam dunia NLP, kelima indera itu disebut sub-modalitas. Setelah masuk melalui indera, selanjutnya pengetahuan tersebut diproses dan diberi makna. Dari sinilah dasar dari asumsi NLP tersebut, yaitu peta tidak sama dengan wilayah. Namun, seperti yang telah saya kemukakan bahwa ada pengetahuan/peta yang sama dengan realitas/wilayah. Apa itu? Sabar dong ya!

Sekarang, coba Anda perhatikan penjelasan saya barusan tadi. Sebuah pengetahuan masuk kepada seseorang itu melalui kelima indera. Setelah masuk, maka diproses dan kemudian diberi makna. Pertanyaan saya adalah: Berarti ada pengetahuan sebelumnya (sebelum pengetahuan yang masuk melalui indera itu masuk kepada kita), yaitu pengetahuan yang kita pakai untuk menilai (memberi makna) pada pengetahuan yang masuk melalui indera kita, betul kan? Karena jika tidak ada pengetahuan sebelumnya yang telah ada dalam pikiran kita, maka mustahil kita akan memberi makna pada pengetahuan yang baru saja masuk melalui kelima indera kita itu, benar kan? Sekarang pertanyaannya adalah: Darimana pengetahuan sebelumnya itu berada dalam pikiran kita? Mungkin Anda akan menjawab: Ya… pengetahuan sebelumnya itu kan ada karena hasil dari pengalaman kita? Ok, jawaban ini sedikit benar. Mengapa? Karena pertanyaan yang lebih lanjut adalah: Apa yang Anda pakai untuk menilai pengetahuan sebelumnya itu? Mungkin Anda agak bingung; kalau begitu mari kita pakai contoh saja.

Misalkan sebuah pengetahuan yang masuk melalui kelima indera Anda itu disebut X, maka perlu ada pengetahuan yang telah Anda ketahui sebelumnya, yang dipakai untuk menilai/memberi makna pada X. pengetahuan yang telah ada pada Anda ini kita sebut saja Y. Dan seperti jawaban atas pertanyaan di atas, Y ada dalam pikiran Anda karena dari pengalaman; dengan kata lain, pengetahuan Y juga sebelumnya hadir dalam pikiran Anda melalui indera, karena pengalaman berarti melibatkan kelima indera. Nah, pertanyaan saya adalah: Apa yang Anda pakai untuk menilai/memberi makna pada pengetahuan Y? Dan dari mana pengetahuan tersebut hadir untuk menilai pengetahuan Y. Mungkin Anda akan menjawab lagi dari pengetahuan sebelumnya, kita misalkan Z. Sekarang, dari mana lagi Anda menilai/memberi makna pada Z. Jika pertanyaan ini kita pertanyakan terus-menerus, maka kita akan sampai pada satu kesimpulan, yaitu: Terdapat sebuah pengetahuan yang hadir dalam diri kita, yang kehadirannya tidak melalui indera sama sekali. Kenapa? Karena indera hanya terbatas pada pengalaman, dan ada suatu masa dimana seseorang belum memiliki pengalaman sama sekali. Argumen ini pun, walau masih kurang kuat, dapat membuktikan keberadaan Tuhan atau apapun sebutan yang ingin Anda pakai untuk menyebut Yang Mahakuasa. Karena, mustahil bagi Tuhan untuk menghidupkan kita semua di dunia ini tanpa adanya pengetahuan sama sekali, yang menjadi bekal bagi kita untuk berjalan dimuka bumi ini. Bukankah pengetahuan itu menjadi bekal bagi kita, dan bagaimana kita menggunakan pengetahuan itu akan membuat kita sukses dan bahagia. Jadi, mustahil seseorang terlahir tanpa pengetahuan sama sekali. Pengetahuan awal, yang kita pakai untuk memberi makna pada pengetahuan-pengetahuan baru yang masuk melalu kelima indera kita.

Nah, pengetahuan awal inilah (pengetahuan yang hadir dalam diri kita dan tidak melalui pengalaman/indera) yang sesungguhnya merupakan pengetahuan yang sama persis dengan wilayah/realitas. Karena jika tidak, maka kebuntuanlah yang telah Tuhan berikan kepada kita, dan ini adalah sesuatu yang sangat mustahil. Tuhan pasti telah memberikan kepada kita sebuah pengetahuan yang benar dan sesuai dengan realitas, dimana dengan pengetahuan ini kita berjalan di muka bumi. Dalam ilmu filsafat, pengetahuan awal (pengetahuan yang sesuai dengan realitas, dan menjadi pengetahuan awal kita untuk memberi makna pada realitas) ini disebut dengan NON-KONTRADIKSI.

Non-kontradiksi dapat kita sebut sebagai PEMBEDA. Sebuah pengetahuan awal bagi manusia untuk melakukan suatu pembedaan. Anda hanya sama dengan Anda sendiri, dan Anda mustahil sama dengan saya. Batu hanya sama dengan batu, dan mustahil sama dengan air. Inilah pengetahuan pembeda. Secara realitas, setiap yang ada adalah sesuatu yang berbeda. Kalau semuanya sama, maka mustahil bagi seorang bayi bisa meminum susu ketika baru pertama kali lahir. Kemampuan seorang bayi membedakan antara mana susu dan yang bukan susu telah membuatnya dapat tumbuh menjadi lebih besar. Pengetahuan pembeda adalah pengetahuan yang sama persis dengan realitas, karena setiap realitas itu berbeda-beda.

Pengetahuan pembeda ini juga sering disebut sebagai tashdiq (pembenaran). Jadi dalam Filsafat Timur, sumber pengetahuan itu dibagi atas dua, yaitu tashdiq dan tashawwur. Tashdiq (pembenaran) adalah sebuah pengetahuan awal yang berfungsi untuk memberi makna dan kehadirannya tidak melalui indera (pengalaman), sedangkan tashawwur adalah pengetahuan sekunder yang berasal dari pengalaman inderawi. Mari kita lihat proses kerjanya!

Ketika indera mendapatkan pengetahuan, misalkan “bunga”; maka “bunga” adalah pengetahuan yang belum memiliki makna, karena indera tidak bisa memberikan makna bagi sesuatu. Bahkan pengetahuan “bunga” pun belum memiliki realitas. Pengetahuan “bunga” ini disebut tashawwur atau pengetahuan yang berasal dari indera. Ketika pengetahuan “bunga” masuk melalui indera, maka kemudian akan diberi nilai (pembenaran) terhadapnya, misalkan “bunga itu indah”. Penunjukkan pada jenis bunga tertentu (kata “itu”) dan penilaian terhadapnya (kata “indah”) dilakukan oleh pengetahuan yang berfungsi memberikan makna dan realitas yang telah ada sebelumnya dalam pikiran kita, dan disebut sebagai tashdiq (pembenaran). Jika sebelumnya pengetahuan “bunga” belum memiliki realitas, maka dengan adanya penunjukkan terhadap “bunga” tertentu dan penilaian terhadapnya, telah memberikan penjelasan kepada kita bahwa bunga tersebut memiliki realitas seperti yang telah ditunjukkan dan dinilai sebelumnya. Penunjukkan terhadap “bunga” tertentu mengisyaratkan kepada kita akan adanya suatu kemampuan pembeda pada diri manusia, karena dengan kemampuan tersebut, maka seorang manusia bisa menunjukkan yang manakah realitas sesungguhnya.

Dan, seiring dengan waktu, pengetahuan tashdiq ini pun berkembang dan semakin kompleks, seiring dengan semakin banyaknya pengetahuan pada diri manusia.
Jadi, Anda dapat melihat bahwa sesungguhnya – menurut filsafat timur – ada penjelasan sebelumnya ketika menjelaskan tentang masuknya sebuah pengetahuan dalam diri manusia. Karena penjelasan barat hanya membagi sumber ilmu itu ke dalam satu bagian saja, yaitu melalui indera; dan inilah pandangan dunia modern setelah melalui abad kegelapan dalam tradisi barat.
Kenapa harus ada penjelasan tambahan akan adanya sumber ilmu yang lain, seperti yang dibahas dalam filsafat timur? Karena jika kita kembangkan penjelasan dari barat tersebut, maka ujung-ujungnya manusia akan masuk ke dalam wacana atheis. Mengapa? Karena jika sumber ilmu itu hanya satu sumber saja, yaitu indera (pengalaman), maka akan sangat sulit untuk menjelaskan segala sesuatu yang bersifat meta-fisik. Itulah sebabnya pandangan dunia modern menolak akan adanya meta-fisik. Bukankah Tuhan itu diluar jangkauan fisik (indera).

Namun, perlu diingat bahwa tulisan ini tidak bermaksud membuat dikotomi antara barat dan timur, namun lebih kepada saling melengkapi atas apa yang ditemukan di barat dan apa yang ditemukan ditimur. Saya sendiri pun belajar banyak atas apa yang telah ditemukan oleh dunia barat. Inilah yang menjadi penyebab kenapa saya begitu mendalami NLP. Hal ini disebabkan karena ternyata dasar dari NLP telah saya pelajari sebelumnya ketika mempelajari Logika dan Filsafat Timur sejak tahun 1997. Apa yang saya utarakan barusan hanyalah penambahan sedikit dari masuknya pengetahuan ke diri manusia ala NLP. Karena menurut hemat saya, sebuah keyakinan itu ada yang berdasarkan pengetahuan, selain berdasarkan pada penyaksian (kehadiran, hudhuri). Nah, logika dan filsafat timur yang saya pelajari adalah sebuah sumber keyakinan berdasarkan pada pengetahuan. Dengan mempelajarinya, seseorang bisa yakin akan keberadaan Tuhan, dan seluruh manifestasi-Nya (ciptaan-Nya). Saya juga melihat bahwa dasar dari NLP ini merupakan dasar yang jika dilakukan beberapa penambahan tertentu bisa dipakai sebagai argumen untuk membuktikan keberadaan Tuhan, selain dipakai untuk ilmu meraih kesuksesan. Bukankah kesuksesan yang holistik adalah kesuksesan yang berlandaskan pada keyakian yang kuat terhadap Tuhan, dan bagaimana memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain. Semoga tulisan ini menambah khazanah berpikir!

Wednesday, April 6, 2016

TELAH TERBIT!!!!!



BUKU YANG AKAN MENGUBAH HIDUP ANDA, KARENA ANDA BISA MENGUBAH KEYAKINAN ANDA YANG MEMBELENGGU DAN MENJADI LEBIH BERDAYA

Kebanyakan manusia memang susah untuk berubah, karena memang otak kita dirancang untuk "menolak" perubahan yang tak perlu atas keyakinan yang telah ada sebelumnya.
Tapi benarkah otak tak bisa diubah?
Sekiranya otak tak bisa berubah, maka selamanya Anda masih memegang keyakinan yang telah ada sebelumnya.
Bagaimana jika keyakinan Anda itu justru tak relevan dengan perkembangan dan pencapaian impian Anda?
Kalau ternyata otak bisa berubah, lantas bagaimana caranya?

TELAH TERBIT!! BUKU YANG FENOMENAL: CHANGE LIMITING BELIEFS


APRESIASI ATAS BUKU INI

Sebuah cita-cita yang bermakna perlu perjuangan untuk meraihnya. Perjuangan itu akan terasa indah jika kita mengikatnya secara emosional, mencintai dan menikmatinya. Yang lebih penting adalah, jangan sampai kita meraih cita-cita tetapi ternyata cita-cita yang kita pancangkan ternyata terlalu rendah.
Anies Baswedan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI

Mental block bisa dimiliki setiap orang dan mendorong kita untuk "malas" bertindak. Selamat membaca buku ini.
Rhenald Kasali
Rumah Perubahan

Buku ini menawarkan cara untuk melepaskan keyakinan yang membelenggu diri. Karena kepercayaan/keyakinan yang adaptif dengan perkembangan zaman dan nilai-nilai kemanusiaan yang dapat membuat kita mencapai tujuan yang bermakna. Bacalah dan temukan hal-hal menarik di dalamnya!
Ir. H. Moh. Ramdhan Pomanto
Walikota Makassar

Dalam ilmu bertanam, jika ingin mengubah buahnya, modifikasi harus dimulai dari akarnya. Begitu juga dalam diri kita. Untuk bisa mengubah perilaku dan tindakan kita, kita harus mengubah apa yang ada di dalam diri kita, yaitu pola pikir dan cara pandang kita. Buku “Change Limiting Beliefs” karya Syahril Syam sangat  menarik, diulas dengan bahasa yang ringan namun tetap menggugah. Baca buku ini, perjuangkan mimpi Anda, dan berkaryalah untuk negara kita tercinta. Indonesia, Pasti Bisa!
Merry Riana
Motivator Wanita No.1 di Indonesia & Asia
Founder ‘Life Academy – The Ultimate Teenage Program’
Tokoh Inspirasi Buku & Film 'MERRY RIANA: Mimpi Sejuta Dolar'
Radio Host 'The Merry Riana Show' on Sonora Network



UNTUK PEMESANAN DAN ATAU INGIN MENGUNDANG SEMINAR/WORKSHOP, SILAHKAN MENGHUBUNGI VIA SMS/WA: 0821 88 1111 55



KENAPA SANGAT PERLU MEMBELI BUKU INI!
BUKU INI DIBUAT KARENA:
  1. Menunjukkan kepada Anda bagaimana BELIEF (KEYAKINAN) berpengaruh sangat penting terhadap:
  • Kemiskinan atau Kekayaan Anda
  • Sakit atau Kesembuhan Anda
  • Kegagalan atau Prestasi Anda
  • Malas atau Kinerja Anda
  • Kehampaan atau Kebahagiaan Anda
  • Keserakahan atau Kemanusiaan Anda

  1. Tanpa disadari, Anda mungkin telah belajar bagaimana menjadi manusia yang tak berdaya dan tak berguna dalam kehidupan ini. SEKARANG, saatnya Anda mengambil alih kehidupan Anda dengan menjadi MANUSIA BERDAYA DAN BERMAKNA!

  1. Betapa berbahaya-nya “MEMUJI” anak!

  1. Ada Petunjuk dan Cara Untuk Mencapai Prestasi Puncak!

  1. Ada yang SPESIAL di Bab 5 tentang kualitas jiwa.

  1. Memuat teknik-teknik pikiran praktis yang sangat mudah dilakukan dan ampuh dalam merubah belief yang melemahkan diri, agar menjadi belief yang memberdayakan diri.


KATA MEREKA TENTANG BUKU INI?

Banyak orang tidak sadar bahwa alam bawah sadar pikiran manusia berperan sangat penting dalam menentukan masa depan. Orang sukses adalah orang yang baik sengaja maupun tidak sengaja, menggunakan alam bawah sadarnya sebagai spirit hidupnya. Bapak Syahril Syam, melalui buku “Change Limiting Beliefs”, berhasil mengungkapkan bagaimana mengubah cara pandang dan pikiran dalam menjalankan kehidupan sehari-hari dan juga meraih tujuan yang direncanakan
Agus Mulyadi
Vice President Telkomsel Area Pamasuka

Apapun kondisi dan posisi kita saat ini kita bisa membuatnya lebih baik lagi. Kuncinya ada dalam pikiran kita. Buku ini memberikan penjelasan tentang proses yang terjadi dan membentuk pikiran kita serta bagaimana mengubahnya agar dapat membawa kita mengoptimalkan potensi kita sebagai khalifah di muka bumi yang tidak hanya memberikan manfaat untuk diri sendiri tapi juga orang lain bahkan seluruh alam semesta.
Hariyadi Kaimuddin
CEO Kalla Automotive

“Jika ingin hidup bahagia, maka hidupkanlah ‘hari ini’. Dan jika kurang tahu caranya, maka bacalah buku ini”
Drs. H. Muslimin Bando, M.Pd.
Bupati Enrekang – Sulawesi Selatan

Buku ini akan semakin menguatkan keyakinan bahwa aspek “belief” memiliki peran penting terhadap sikap hidup manusia. Saat bersamaan, pembaca diajarkan agar menjadikan optimisme sebagai perangkat menata masa depan kehidupan masing-masing.
Dr. Suhardi Duka, MM
Bupati Mamuju – Sulawesi Barat (2005 – 2015)

Keyakinan dan kepercayaan atas kemampuan diri merupakan hal yang penting dimiliki setiap orang yang ingin sukses. Itu sebabnya buku ini penting dibaca oleh siapa saja, terutama pelajar dan mahasiswa yang sedang mempersiapkan diri menuju masa depan yang lebih baik
Prof. Dr. H. Arismunandar, M.Pd
Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM)

Anda hari ini adalah apa yang Anda percayai dan yakini di hari kemarin. 
Membaca buku ini akan membantu Anda menjelaskan mengapa demikian dan --siapa tahu-- bisa membantu Anda merumuskan keyakinan baru untuk hari esok yang lebih baik.
Dahlan Dahi
Pemimpin Redaksi TRIBUNnews.com

Keyakinan dapat memindahkan gunung. Namun, keyakinan yang salah juga bisa memenjarakan. Pelajari dan praktekkan prinsip-prinsip di buku ini agar keyakinan bisa memberdayakan.
Badroni Yuzirman
Founder Komunitas Tangan Di Atas (TDA)
@roniyuzirman

“Banyak orang dibatasi, bukan oleh latar belakang dirinya yang miskin atau kemampuannya yang kurang tapi oleh KEYAKINANNYA YANG SALAH! Dalam buku ini Syahril Syam menunjukkan dengan detil bagaimana keyakinanmu, dapat menghancurkan atau mendukungmu. Pertama kali membaca buku ini saya langsung menyukainya, karena dilandasi dengan kisah, cerita serta latar belakang studi yang mendukung setiap penjelasannya. Trust me! Buku ini adalah buku yang layak dikoleksi karena kedalaman pembahasannya. Buku pegangan penting bagi setiap orang yang ingin memaksimalkan hidupnya ataupun memaksimalkan hidup orang lain!”
Anthony Dio Martin
"Best EQ trainer Indonesia", direktur HR Excellency & Miniworkshopseries Indonesia, pembicara, ahli psikologi, penulis buku-buku best seller, narasumber tetap program motivasional di SmartFM Network, host program tetap di TV Excellent & Mutiara TV, kolomnis di berbagai harian dan majalah.  Website: www.anthonydiomartin.com & twitter: @anthony_dmartin

Buku ini membuat Anda mengalami transformasi diri. Bacalah!
Erbe Sentanu
Founder Katahati Institute
Penulis buku Quantum Ikhlas

Buku yang sangat berpengaruh dalam mengubah hidup kita. Selama ini kita selalu bergulat dengan hal-hal yang bersifat LOGIS atau PSIKOLOGIS. Sebagian dari kita lupa bahwa hal yang bersifat PSIKOLOGIS sesungguhnya lebih dominan dalam membuat kita sukses atau bahagia. Bang Syahril Syam dengan sangat cerdas mengemas hal fundamental tersebut dalam buku "Change Limiting Beliefs" secara praktis tanpa kehilangan kedalaman filosofinyanya. Dilengkapi hasil-hasil riset yang sangat meyakinkan. Buku ini dapat menjadi alternatif utama dalam mendukung program Revolusi Mental yang sedang dicanangkan secara intensif. Maju terus Bang Syahril !!
Tommy Sudjarwadi 
Head of FranklinCovey Indonesia

Jika ingin menggali potensi diri dan mengembangkannya secara maksimal, buku ini PAS untuk Anda! Baca dan Praktikkan, maka sukses dan bahagia pasti segera tiba.
Ponijan Liaw, M.Pd
Komunikator No. 1 Indonesia
Instagram: PonijanLiaw

Bila Anda sudah tahu bahwa pikiran Anda tidak terbatas, lalu mengapa harus dibatasi? Kali ini Bung Syahril Syam kembali mengajak Anda untuk terus terbang tinggi. Menjelajahi dunia ini, dunia sukses yang langit hanya jadi batasnya... Terima kasih juga atas kehadiran buku ini.
Krishnamurti

Mindset Motivator, penulis buku "Motivasi dalam meditasi"



UNTUK PEMESANAN DAN ATAU INGIN MENGUNDANG SEMINAR/WORKSHOP, SILAHKAN MENGHUBUNGI VIA SMS/WA: 0821 88 1111 55

Sunday, November 14, 2010

TEMUKAN MAKNA KEHIDUPAN DI BALIK KEKECEWAAN

Belasan tahun yang lalu, saya dan seorang kawan mengendarai sebuah sepeda motor menuju ke suatu daerah di luar kota Makassar. Motor yang kami kendarai adalah motor dengan jenis mesin 2 tak. Saat itu saya memegang kemudi motor tersebut. Di saat kami tengah asyik menikmati perjalanan, dan di saat rumah-rumah penduduk sudah mulai jarang terlihat di sepanjang perjalanan, tiba-tiba kami dikejutkan dengan menyalanya sebuah lampu indikator berwarna merah yang terdapat di panel instrument.

Kami tahu bahwa lampu indikator berwarna merah tersebut menandakan bahwa oli samping motor yang kami kendarai sebentar lagi akan habis. Dan itu berarti kami hanya memiliki dua pilihan. Pertama, tidak peduli atau bahkan marah-marah serta menyesal menggunakan motor 2 tak, atau kedua, mulai berdoa dan mengundurkan kecepatan motor serta berharap-harap cemas, semoga kami segera menemukan stasiun pengisian bahan bakar atau paling tidak penduduk setempat yang menjual bensin sekaligus oli samping. Jika pilihan pertama yang kami ambil, maka kamilah yang akan menyesal kemudian, juga akan menjadi sangat kerepotan dengan dengan keadaan tersebut. Karena jika sampai oli samping motor tersebut betul-betul habis, maka bukan hanya mesin motornya yang rusak, kami pun akan begitu kerepotan melanjutkan perjalanan, terlebih lagi rumah-rumah penduduk sudah mulai jarang terlihat.

Waktu itu, saya sempat panik, kawan saya pun sempat panik, karena kami tahu persis apa yang akan terjadi kepada mesin motor jika sampai oli sampingnya habis total. Jadi, kami pun mengambil langkah kedua. Kami mulai berdoa dalam hati, mulai mengurangi kecepatan motor, dan berharap-harap cemas agar segera menemukan penjual oli samping. Beruntunglah waktu itu, sekitar 15-20 menit perjalanan, kami menemukan penduduk setempat yang menjual bensin sekaligus oli samping. Kami segera membelinya, dan akhirnya perjalanan kami pun lancar kembali.

Perjalanan di kehidupan ini pun kurang lebih sama dengan perjalanan kami di atas. Allah swt sudah merancang diri kita laksana sebuah “mesin” yang tangguh dalam mengarungi perjalanan kehidupan ini. Tentunya manusia tidak sama dengan mesin motor, oleh sebab itu kata “mesin” saya beri tanda kutip. Namun prinsip kerja emosi kita memiliki kemiripan dengan panel instrument pada kendaraan bermotor. Sistem emosi kita tidak memberikan sinyal kepada kita berupa kata-kata, tapi memberikan sinyal peringatan kepada kita melalui emosi-emosi yang kita rasakan. Dalam tulisan ini, salah satu sinyal emosi yang sering muncul kepada kita adalah KECEWA. Apa sih maksud munculnya perasaan kecewa ini pada kita? Inilah yang akan kita bahas pada tulisan kali ini.

Saya percaya, Anda pernah merasa kecewa. Jika Anda sama sekali tidak pernah merasa kecewa berarti sistem emosi Anda kemungkinan besar rusak. Anda ibarat mayat hidup yang berjalan tanpa adanya emosi. Padahal, kehidupan ini justru penuh warna, karena adanya sistem emosi pada diri kita. Kadang-kadang kita kecewa, eh … kadang-kadang kita bahagia. Inilah warna-warna kehidupan. Bisa Anda bayangkan jika Anda tidak memiliki emosi sama sekali. Anda tentu tidak bisa merasakan kekecewaan sekaligus juga tidak bisa merasakan kebahagiaan. Dalam penelitian dibidang neurosains, orang-orang yang sistem emosinya rusak, merupakan orang-orang yang hidup tanpa makna dan warna kehidupan. Beberapa orang kemudian menjadi psikopat kelas kakap.

Nah, perasaan kecewa yang muncul seperti lampu indikator berwarna merah yang ada pada penel instrument motor yang kami kendarai tadi. Emosi kecewa sesungguhnya merupakan signal bahwa ada sesuatu di dalam pikiran dan hati kita yang salah dan berjalan tidak sebagaimana mestinya. Itulah sebabnya muncul perasaan kecewa. Lebih tepatnya, perasaan kecewa muncul karena ada kesenjangan antara harapan kita dan kenyataan hidup yang tengah kita jalani. Ketika perasaan kecewa ini muncul, maka Anda pun hanya memiliki dua pilihan. Pertama, marah-marah dengan keadaan dan orang-orang di sekitar Anda, atau kedua, belajar menemukan makna kehidupan ini. Jika langkah pertama yang Anda ambil, maka seperti mesin motor, pikiran dan hati Anda pun akan semakin rusak (dalam bahasa agama, memiliki hati yang kotor). Tapi jika Anda membuka diri dan belajar menemukan makna, maka pikiran dan hati Anda pun akan semakin jernih, dan Anda akan semakin mudah dan menikmati mengarungi kehidupan ini hingga akhir hayat memanggil.

Agar lebih menarik, maka mari kita lihat kerja emosi kecewa ini di dalam otak kita. Kita akan membahas hasil-hasil penelitian di bidang neurosains. Bagian otak yang bernama prefrontal cortex adalah bagian otak yang selalu men-scan setiap detik-detik kehidupan kita. Bagian otak ini letaknya dibalik dahi Anda. Bagian ini ibarat mata ketiga Anda yang selalu memantau setiap detik kehidupan Anda. Seperti yang kita ketahui, otak kita bekerja dengan cara menciptakan hubungan-hubungan antar sel otak (antar neuron). Hubungan antar neuron ini tercipta dengan bantuan sejenis zat kimia yang disebut neurotransmitter, atau zat kimia yang berfungsi menyampaikan pesan dari satu syaraf ke syaraf lainnya. Salah satu neurotransmitter di dalam otak kita adalah dopamin. Neurotransmitter dopamin ini merupakan neurohormon yang berperan mengatur emosi-emosi kita; suatu senyawa molekul yang menciptakan perasaan-perasaan kita.

Jika dopamin diproduksi dalam jumlah yang banyak, maka Anda akan merasa senang dan bahagia. Akan tetapi jika jumlah dopamin berkurang di dalam otak Anda, maka Anda akan merasa sedih dan kecewa. Nah, bagaimana sih kerja neuron-neuron dopamin ini? Mari kita lihat penelitian yang dilakukan oleh Wolfram Schultz dari Universitas Cambridge. Tanpa sengaja Schultz, menemukan kerja neuron dopamin ini pada eksperimen pemberian hadiah kepada kera-kera percobaannya. Dalam penelitiannya, Schultz membunyikan suatu suara keras, menunggu beberapa detik, dan kemudian memberikan beberapa tetes jus apel ke mulut seekor kera. Awalnya, neuron dopamin ini bergerak ketika tetes-tetes jus apel tersebut diberikan. Namun, hanya dengan beberapa kali percobaan saja, kera-kera itu menunjukkan aktivatas neuron dopamin yang menarik. Hanya cukup dengan membunyikan suara keras saja, neuron-neuron dopamin yang sama akan mulai bergerak, bukan lagi bergerak di saat mendapatkan hadiah berupa tetes-tetes jus apel.

Dalam penelitiannya, Schultz melihat pola kerja yang sangat menarik pada neuron dopamin kera-kera tersebut. Cara kerja neuron dopamin lebih mirip kepada aktivitas mem-prediksi hadiah ketimbang benar-benar mendapatkan hadiah tersebut. Menariknya lagi, kera-kera yang diberi hadiah berupa makanan tanpa membunyikan suara keras sebelumnya, menunjukkan aktivitas neuron dopamin yang mulai bergerak sesaat sebelum mereka betul-betul mendapatkan makanan tersebut. Dengan kata lain, neuron dopamin mereka bekerja dan mulai memprediksi – bahwa mereka akan mendapatkan makanan sebentar lagi – sebelum mereka betul-betul mendapatkan makanan. Cara kerja sistem ini menyangkut EKSPEKTASI (harapan), dan membuat pola berdasarkan pengalaman: jika ini, maka itu. Jika bel dibunyikan, maka mereka mem-prediksi bahwa sebentar lagi akan segera mendapatkan makanan. Dan jika prediksi kera-kera tersebut benar, maka sejumlah besar dopamin akan keluar dan hal ini akan menimbulkan perasaan senang dan membahagiakan.

Namun ketika prediksi kera-kera tersebut keliru (kera-kera tersebut mendengar suara keras, tapi dalam penantian, kera-kera tersebut tidak mendapatkan sama sekali tetes-tetes jus), maka jumlah gerakan-gerakan neuron dopaminnya akan menurun. Dan hal ini akan menyebabkan jumlah dopamin berkurang, dan akan melahirkan kesedihan dan kekecewaan. Dengan kata lain, telah terjadi salah prediksi. Neuron-neuron dopamin mendapatkan sinyal salah prediksi.

Setelah melalui serangkaian pengalaman yang begitu banyak, maka kera-kera ini pada akhirnya mahir melakukan prediksi dengan tepat. Dengan kata lain, neuron-neuron dopamin mereka telah membuat pola-pola prediksi yang baru dan akurat, setelah membandingkan serangkaian prediksi yang benar dan prediksi yang keliru. Dan pola-pola neuron dopamin ini terjadi pada level bawah sadar. Artinya, terjadi tanpa si kera menyadarinya. Pada akhirnya, kera-kera ini mengetahui, bahwa jika situasinya berjalan sempurna, maka neuron-neuron dopamin akan bergerak dan memberikan sensasi kesenangan, dan akhirnya mereka akan mendapatkan hadiah. Namun, jika situasinya tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka sel-sel otak ini langsung mengirimkan sinyal salah prediksi, dan berhenti mengeluarkan dopamin. Hal ini akan menimbulkan suatu perasaan sedih dan kecewa, atau mungkin juga suatu kecemasan.

Nah, bagaimana dengan kehidupan ini? Setiap kali Anda membuat kesalahan atau menjumpai sesuatu yang baru, neuron-neuron dopamin sibuk mengubah diri mereka. Sel-sel otak ini juga mengukur kesenjangan antara harapan dan hasil. Mereka belajar dari kesalahan-kesalahan mereka sendiri untuk meningkatkan performa mereka; kegagalan akhirnya diubah menjadi keberhasilan. Karena pada manusia ada pilihan hidup, maka tentunya hal ini akan terjadi jika Anda mau belajar dan membuka diri terhadap berbagai perubahan dalam hidup.

Para master dalam bidang tertentu bekerja berdasarkan prinsip kerja neuron dopamin ini. Garry Kasparov, grand master catur, menjadi sangat ahli dalam bermain catur karena dia selalu menonton kembali pertandingan-pertandingan yang pernah dilaluinya. Dia menonton untuk kemudian mencari-cari kesalahan yang ia buat ketika bermain catur. Hal ini selalu membuat dia belajar dan memperbaiki langkah-langkah catur yang mumpuni. Di dalam otak Garry Kasparov, yang terjadi ketika ia menonton ulang pertandingannya adalah neuron-neuron dopamin kemudian membuat pola-pola prediksi baru, agar menciptakan suatu pola prediksi langkah catur yang benar dan akurat.

Neuron-neuron dopamin secara otomatis mendeteksi pola-pola stimulus. Mereka menyerap semua data yang tak dapat kita tangkap secara sadar. Kemudian, sesudah merevisi prediksi-prediksi tentang dunia nyata, mereka menerjemahkan prediksi-prediksi ini menjadi emosi-emosi. Kegagalan, kesalahan, kekecewaan, bersifat mendidik. Latihan yang tekun akan menghasilkan intuisi yang cerdas. Dengan kata lain, semakin banyak kegagalan dan kekecewaan yang menimpa Anda, dan Anda secara seksama mempelajarinya, maka Anda akan semakin AHLI. Karena perasaan-perasaan negatif dan menyakitkan yang Anda rasakan ketika berbuat kesalahan, justru membuat otak Anda me-REVISI model-modelnya. Dengan kata lain, sebelum berhasil, neuron-neuron dopamin harus gagal berkali-kali.

Coba Anda perhatikan para sales terbaik. Mereka adalah orang-orang yang kenyang makan asam garam komunikasi dengan orang lain. Jika kita memperhatikan para sales terbaik itu, mereka adalah orang-orang yang dengan mudahnya membangun keakraban dengan orang lain, sebelum pada akhirnya berhasil menciptakan sebuah transaksi yang menguntungkan. Nah, bagaimana caranya mereka menjadi sales terbaik? Sudah pasti dengan cara bertemu dengan orang-orang baru setiap hari. Mungkin pada awalnya mereka rada kaku dalam berkomunikasi dengan orang-orang yang baru mereka kenal. Awalnya mereka kecewa karena prediksi komunikasi mereka keliru. Tapi setelah melalui serangkaian pengalaman bertemu dengan orang-orang baru, maka neuron-neuron dopamin mereka mulai mahir menciptakan pola-pola prediksi secara akurat, dan menghasilkan komunikasi yang akrab. Tentunya berakhir dengan penjualan yang sukses.

Yang perlu diingat adalah bahwa neuron dopamin kita akan bekerja dengan baik, jika kita mau belajar dan membuka diri terhadap berbagai perubahan yang mungkin kita alami. Garry Kasparov tidak akan mungkin menjadi grand master catur, jika ia larut dalam kekecewaan yang dirasakannya. Atau sales terbaik tidak akan mungkin berhasil meningkatkan penjualannya, jika selalu larut dalam kecewa ketika bertemu orang-orang baru dan “gagal” menciptakan suasana akrab.

Jadi ketika Anda kecewa, maka pada dasarnya emosi ini hadir untuk memberitahu kepada Anda bahwa terdapat kesenjangan antara harapan Anda dan kenyataan yang diterima. Dan emosi ini memberitahu kepada Anda untuk segera belajar dan membuka diri terhadap kenyataan hidup. Bukan dengan marah-marah dan larut dalam kekecewaan yang semakin pahit.

Jika kita melihat ini lebih luas lagi, maka ternyata kehidupan ini sudah dirancang sedemikian rupa, agar fase-fase kehidupan kita ini di selingi dengan beberapa kekecewaan, yang merupakan sebuah signal bagi kita bahwa jalan yang kita pilih sudah tepat, hanya saja kita perlu fleksibel dalam menyikapi kehidupan. Sewaktu workshop, saya sering memberi contoh kehidupan pernikahan.

Jika libido masih dalam kadar full, maka prediksi-prediksi (harapan) kita terhadap pasangan selalu tepat, dan ini akan melahirkan kesenangan dan kebahagiaan. Namun biasanya, ketika libido sudah mulai tersalurkan, maka biasanya prediksi-prediksi (harapan) kita terhadap pasangan mulai tidak tepat. Maka akan muncullah serangkaian kekecewaan. Suami mulai merasa kecewa terhadap istrinya, dan istrinya pun mulai kecewa terhadap suaminya. Jika perasaan kecewa berusaha untuk dihindari, maka Anda pasti akan semakin larut dalam kekecewaan, dan semakin menyalahkan keadaan dan pasangan Anda. Dalam kondisi tertentu, Anda mulai merasa bahwa jalan kehidupan yang Anda tempuh mulai salah. Dan karena Anda merasa jalan hidup Anda mulai keliru, maka Anda cenderung membuat jalan kehidupan yang baru, dengan harapan Anda akan berhenti merasa kecewa. Tapi pertanyaannya adalah: Apakah ketika Anda membuat jalan baru kehidupan, Anda tidak akan kecewa lagi? Jawabannya sudah pasti TIDAK. Karena kecewa itu terjadi ketika neuron dopamin Anda salah prediksi, dan karena kehidupan ini merupakan perjalanan yang panjang dan belum diketahui ujungnya, maka sudah pasti akan selalu ada gap antara harapan Anda dan kenyataan hidup yang Anda lalui.

Jadi bagaimana seharusnya? Ingatlah selalu bahwa emosi kecewa adalah sebuah sinyal yang dikirimkan agar Anda merasakannya. Dan ketika Anda merasakan kecewa, maka percayalah, ada gap antara harapan Anda dan kenyataan yang Anda lalui. Ada gap antara harapan Anda terhadap pasangan dan kenyataan yang Anda terima. Karena kehidupan ini sudah dirancang oleh-Nya agar kita menjadi AHLI MANUSIA (menuju kesempurnaan), maka langkah pertama adalah akuilah perasaan kecewa itu karena itu berarti Anda sudah berada dijalan yang benar. Kemudian belajarlah menciptakan pola-pola hubungan baru dengan pasangan Anda, dan terimalah suasana perubahan itu, terimalah kenyataan hidup Anda. Berhentilah menyalahkan keadaan dan orang-orang di sekeliling Anda.

Begitu juga bagi Anda yang salah prediksi terhadap seorang pria/wanita dalam kehidupan Anda, atau salah prediksi tentang sahabat Anda, saudara Anda, bahkan orang tua Anda dan juga kehidupan ini, pilihan Anda yang terbaik adalah BELAJAR MENYIKAPI KEHIDUPAN INI. Bersikaplah dengan penuh toleransi terhadap orang lain dan kehidupan. Rasa kecewa adalah sebuah signal, bahwa Anda harus mulai lagi menata kehidupan Anda. Mencari “stasiun pengisian bahan bakar terdekat”, agar Anda bisa segera mengisi “oli” baru dalam kehidupan Anda, sehingga Anda akan bahagia dan menikamati perjalanan kehidupan ini. SUKSES DAN BAHAGIA SELALU UNTUK ANDA!

Wednesday, August 4, 2010

MAAFKAN DIRIKU!


Mendekati bulan ramadhan ini, dapat kita lihat ada semacam tradisi pada sebagian besar masyarakat untuk datang ke kuburan. Tentunya mereka datang untuk mendoakan keluarga mereka yang telah meninggal. Selain itu, dapat pula kita temukan suatu fenomena pemanfaatan teknologi, yaitu SMS yang dikirim ke kerabat dan handai taulan untuk saling maaf-memaafkan. Kadang sebagian manusia itu lucu juga. Karena biasanya SMS permohonan maaf itu dikirimkan ke keluarga dan sahabat yang belum tentu kita berbuat khilaf. Mungkin saja ada ke-khilafan yang tanpa disadari yang pernah kita lakukan. Tapi yang saya maksud lucu adalah, bagaimana dengan keluarga atau sahabat yang betul-betul memang ada sedikit perselisihan dan kemudian menjadi masalah besar? Apakah mereka-mereka itu juga sudah kita kirimkan SMS permintaan maaf, di saat ramadhan yang sebentar lagi tiba.

Saya sih ndak mau berbicara tentang manfaat dan mudharat ketika memberi dan meminta maaf atau tidak mau memaafkan sama sekali. Biarlah hal itu menjadi urusan para penceramah. Tentunya ada sangat banyak ayat Al-Qur’an dan riwayat-riwayat hadis yang berkenaan dengan kata “maaf”. Tapi kali ini saya ingin membahasnya dari sudut pandang teknologi pikiran.

Kenapa sih sulit sekali untuk memaafkan orang lain atau meminta maaf? Dari sudut pandang psiko-analisa, akan dikatakan bahwa kita sudah dari kecil diajarkan untuk merasa gengsi untuk meminta maaf terlebih dahulu. Sudah terlalu sering diajarkan bahwa meminta maaf akan menjatuhkan harga diri kita, apalagi jika kita merasa bahwa kita-lah yang benar dalam masalah tersebut.

Itu menurut psiko-analisa. Tapi, saya ingin membahasnya lebih kepada cara kerja pikiran kita. Penelitian dibidang neuro-sains semakin membuktikan bahwa “emosi” memegang peranan sangat penting dalam melakukan suatu tindakan tertentu. Emosi kita-lah yang menjadi motivator bagi kita untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Sebagai contoh, malas. Bukankah salah satu hal yang membuat kita cenderung menunda adalah karena setiap kali kita ingin melakukan action, selalu saja ada emosi tertentu yang membuat kita merasa enggan melakukan action, yang biasanya kita sebut sebagai malas. Tentunya bukan hanya malas, rajin juga merupakan sebuah istilah yang kita sebutkan ketika kita merasakan suatu emosi bahagia campur aduk dengan semangat tinggi untuk melakukan action.

Atau misalkan, dihadapan Anda sekarang ada remote TV dan batu sebesar genggaman tangan. Anda diminta untuk memilih salah satunya saja, untuk melakukan suatu action, yaitu melempar mangga yang letaknya di bagian atas sebuah pohon mangga. Anda pilih yang mana? Kebanyakan orang, tentu akan memilih sebuah batu sebesar genggaman tangan. Walaupun hal ini Anda lakukan tanpa Anda sadari, penelitian sudah membuktikan bahwa terdapat suatu dorongan emosi tertentu yang membuat Anda memilih batu dibandingkan remote TV untuk melempar mangga.

Nah, dorongan yang terjadi tanpa Anda sadari ini merupakan suatu dorongan “emosi” tertentu di dalam diri Anda. Dan “emosi” kita senantiasa mengikuti persepsi/keyakinan kita. Jika di level bawah sadar, tanpa Anda sadari, Anda memiliki keyakinan bahwa meminta maaf itu membuat harga diri kita jatuh, maka akan selalu ada sebuah dorongan “emosi” tertentu yang membuat Anda sama sekali enggan untuk memberi maaf, apalagi meminta maaf terlebih dahulu.

Walau mungkin secara rasional, Anda menginginkan suatu tindakan memaafkan, tapi entah bagaimana, selalu ada dorongan yang “irasional”, yang membuat Anda tidak mau memaafkan dirinya. Sebenarnya dorongan “irasional” di dalam hati Anda itu juga bersifat sangat rasional. Mari kita mengambil sebuah analogi komputer. Ketika asyik-asyiknya Anda menggunakan komputer Anda, eh … tiba-tiba komputer Anda secara otomatis melakukan proses shut down sendiri. Anda kemudian meng-ON-kan kembali komputernya. Dan terjadi lagi, sedang asyik-asyiknya Anda main game, tiba-tiba shut down kembali. Anda kemudian rada jengkel dan meminta tolong teman yang jago betulin komputer. Bukan hanya jago betulin, juga jago utak-atik program komputer (btw … ada teman saya yang jago betulin dan utak-atik komputer, tinggalnya di MU).

Setelah Anda bawa ke teman Anda. Dia mengatakan bahwa ternyata komputer Anda ter-infeksi virus bronthok. Teman Anda itu kemudian berkata lagi bahwa jika virus bronthoknya masih ada, maka komputer Anda akan selalu shut down sendiri ketika di-ON-kan. Kemudian dia menjelaskan bahwa virus adalah sejenis program yang melakukan sebuah sabotase pada program-program di komputer Anda. Untuk mengatasinya, maka harus dilakukan sebuah proses “mengubah” program virus tersebut, agar virusnya tidak bisa lagi melakukan proses intervensi terhadap berbagai program di komputer Anda. Kalau bahasa sederhanya sih, teman Anda akan menyuruh Anda menggunakan program anti virus yang terbaru agar virusnya lenyap.

Nah pembaca. Proses di level bawah sadar kita itu kayak analogi di atas. Selalu ada semacam “sabotase” yang selalu membuat kita bertindak “irasional” untuk tidak mau memberi maaf atau meminta maaf. Secara rasional kita tahu apa itu “maaf”, dan kita tahu pula bahwa meminta maaf itu baik dan jika tidak memaafkan itu tidak baik. Tapi … itu tadi … selalu ada dorongan “irasional” yang membuat kebanyakan dari kita sangat sulit untuk memaafkan atau meminta maaf.

Hal itu terjadi karena ada semacam program “virus” yang bercokol di level bawah sadar kita. Bukankah virus komputer pun selalu bekerja pada level under-program? Nah, dengan melakukan suatu modifikasi program pada “virus” mental, maka percayalah RASA SULIT DAN BERBAGAI RASA ENGGAN UNTUK MEMAAFKAN DAN MEMINTA MAAF itu pasti akan hilang, dan tergantikan dengan rasa ingin meminta maaf dan memberi maaf.

Wow … betapa indahnya hidup ini dengan meminta maaf dan memberi maaf atas semua khilaf yang mungkin pernah kita lakukan. MAAFKAN KAMI SEKELUARGA YA!