Wednesday, May 9, 2007

PSIKOLOGI POSITIF


Maka Allah ilhamkan kepada jiwa

keburukan dan kebaikannya.

Sungguh berbahagia

orang yang mengembangkan kebaikannya (QS 91:8-9)

Karena kecenderungan kita di abad ke-21 adalah menekankan penanganan aspek-aspek negatif, maka hampir semua pelatihan lebih mengarahkan pelatihannya pada penanganan aspek negatif tersebut; seolah-olah manusia itu hanya dipenuhi dengan masalah dan masalah saja. Kita sudah membahas mental block di atas – dan ini lebih bersifat penanganan masalah – maka kali ini saya akan mengajak Anda untuk melihat hal-hal positif dalam diri Anda.

Berfokus terhadap penanganan berbagai masalah bukanlah hal baru dalam dunia psikologi. Sejak dulu, manusia selalu dipandang sebagai makhluk yang bermasalah. Sejak awal mula munculnya aliran psikologi (mashab behaviorisme), manusia dipandang sebagai suatu mekanik yang penuh dengan banyak masalah. Mashab ini kemudian melihat masalah yang ada pada manusia, tidak bedanya dengan masalah yang ada pada mesin motor kendaraan Anda. Belum lagi dengan mashab psikoanalisis yang melihat kenangan masa lalu sebagai penyebab penderitaan yang ada saat ini. Apapun itu, psikologi yang berkembang selama bertahun-tahun lamanya lebih memedulikan kekurangan ketimbang kelebihan yang ada pada manusia. Itulah sebabnya psikologi yang berkutat pada masalah sering disebut sebagai psikologi negatif.

Hal ini semakin diperkuat dengan berbagai argumentasi yang mendukung bahwasanya manusia itu pada dasarnya buruk. Lihat saja argumentasi sains modern dalam memandang manusia:

… biologi evolusioner, ekonomi, teori perilaku, semuanya memiliki pandangan yang sama tentang manusia … [Dalam pandangan ini] manusia … selalu mengejar kepentingan dirinya, memuaskan keinginannya, atau kesukaannya, atau keuntungannya, atau peneguhannya, atau kelayakan produktifnya. Manusia itu rakus, tidak pernah kenyang dalam mengejar pemuasan keinginannya.

Karena manusia dipandang – pada dasarnya – bertabiat buruk, maka apapun perilaku positif akan dipandang sebagai egoisme psikologis yang tersembunyi. Jika Anda tiba-tiba ingin bersedekah, maka kemungkinan besar teman Anda yang melihat Anda saat itu akan memandang Anda sebagai orang “yang sebenarnya” ingin pamer kekayaan. Bahkan kemungkinan besar Anda sendiri akan mempertanyakan keikhlasan Anda dalam bersedekah: Apakah betul saya ini ikhlas atau ingin pamer kekayaan? Kenapa demikian? Ya karena itu tadi. Kebanyakan manusia memandang dirinya selalu penuh dengan masalah dan pada dasarnya bertabiat buruk. Dr. Jalaluddin Rakhmat menyindir psikologi negatif dengan menyebut sifat buruk itu – menggunakan istilah komputer – sebagai default. Sifat-sifat baik – katanya – hanya muncul karena kita melakukan setting baru. Dalam kacamata Freud, kita akan selalu menemukan egoisme ini jauh di dalam bawah sadar. Perbuatan baik hanyalah salah satu mekanisme pertahanan ego. Ia menyebutnya formasi reaksi: orang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang sebetulnya ia inginkan. Jika ada seorang ibu yang sangat memanjakan anaknya, Freud akan menjelaskan bahwa secara tidak sadar, ibu itu sebetulnya tidak menginginkan anaknya.

Kata Dr. Jalaluddin Rakhmat, “Jangan tanya: Kok dibolak-balik!”. “Karena betapapun tidak logisnya, para psikolog dan lebih-lebih para psikiater menganggap kisah bolak-balik ini sebagai kebenaran,” lanjut Dr. Rakhmat. Egoisme psikologis ini oleh Freud diberi istilah teknis, pleasure principle, prinsip kesenangan. Dahulu, ada lelucon untuk menyindir kebiasaan para psikoanalisis untuk mempatologikan semua perilaku pasien. Jika pasien datang ke tempat praktik sebelum waktunya, ia dibilang “cemas”; jika datang terlambat, ia disebut “galak”; dan jika ia datang tepat waktu, ia dikatakan “kompulsif”. Dalam DSM sendiri – buku ilmiah manual para psikolog dan psikiater – terdapat daftar yang sangat panjang tentang berbagai jenis gangguan mental pada manusia, seakan-akan manusia itu diciptakan oleh Tuhan hanya sebagai tempat sampah yang menampung semua masalah; dan sepertinya manusia itu tidak akan pernah menjadi baik jika semua masalah itu belum terobati.

Karena begitu banyak orang yang hanya berkutat dengan masalah, maka tidak heran jika banyak orang tua yang juga memfokuskan dirinya untuk mengatasi berbagai “masalah” yang ada pada bayi mereka, seperti kemarahan, rasa frustasi, kekerasan, tangisan, rajukan, sifat mudah marah, dan sifat keras kepala. Bayi dianggap hanya sebagai makhluk pembawa masalah. Jadi jangan heran, salah satu tabiat manusia modern adalah tidak ingin memiliki anak, karena dianggap sebagai pembawa masalah baru.

Itulah sebabnya, Martin Seligman kemudian memoloporkan aliran baru dalam dunia psikologi, dan menyebutnya sebagai psikologi positif. Menurut Seligman, “Psikologi bukan hanya studi tentang kelemahan dan kerusakan; psikologi juga adalah studi tentang kekuatan dan kebajikan. Pengobatan bukan hanya memperbaiki yang rusak; pengobatan juga berarti mengembangkan apa yang terbaik yang ada dalam diri kita.” Misi Seligman ialah mengubah paradigma psikologi, dari psikologi patogenis – yang hanya berkutat pada kekurangan manusia – ke psikologi positif, yang berfokus pada kelebihan manusia, dari perhatian yang berlebihan pada penyakit ke konsentrasi pada kesehatan. Kisah nyata berikut ini akan menggambarkan dengan sangat menarik apa yang dimaksud dengan psikologi positif, yang dituturkan oleh Dr. Dan Baker:

Aku membuka pintu. Dan hidupku berubah untuk selama-lamanya. Dor! Dor! Dor! Tembakan senapan! Memang begitu terdengarnya dan aku segera menunduk. Dor! Getarannya tepat menembusku.

Namun, di sebuah sudut ada gadis muda bernama Kate. Bukan senapan yang membuat ledakan keras itu, melainkan kepalanya sendiri, yang ditutupi helm, ketika ia membenturkannya pada tembok yang keras.

Beberapa saat sebelumnya – dahulu pada 1973 – aku berjalan menyusuri lorong-lorong Nebraska Psychiatric Institute sebagai dokter psikologi yang baru masuk, yang sangat percaya diri bahwa aku dapat menyembuhkan setiap penyakit mental berdasarkan buku teks yang aku ingat.

Tetapi, Kate! Ya Tuhan – ia sama sekali tidak mirip dengan kasus apapun yang sudah aku pelajari.

Karena terhenyak atas kekerasan yang ia lakukan terhadap dirinya, aku berpaling kepada perawat yang membawaku kesini. “Adakah orang yang akan membantu dia?” aku bertanya.

“Ya segera.”

“Siapa?”

“Kamu.”

“Bagaimana?”

“Jangan tanya aku,” ia berkata dengan nada kelelahan. “Kate yang malang sudah tidak punya harapan lagi. Tidak mungkin.”

Aku betul-betul ketakutan. Pintu ditutup. Dor! Dor! Dor! Aku baru saja memperoleh sambutan hangat dari dunia psikologi yang sinis.

Hal pertama yang aku sadari adalah tidak ada satu pun yang aku pelajari dalam lingkungan akademis dapat membantu Kate. Sekiranya pendekatan konvensional mampu membantunya, pastilah ia sudah tertolong. Kate sebelumnya telah dirawat oleh beberapa tim dokter yang terkenal, dengan hampir 25 pendekatan yang berbeda. Ia telah disemprot dengan amonia ketika membenturkan kepalanya dan seorang dokter ingin mengejutkan dengan alat yang menyerupai penjepit binatang. Mereka telah bicara dengan Kate tentang benturan kepalanya. Tetapi, semuanya tidak berjalan lancar karena ia terhambat dalam perkembangan kepribadiannya, dengan IQ yang sangat rendah. Mereka mencoba membujuknya dengan gula-gula agar tidak melakukannya. Tidak berhasil. Salah seorang dokter berteori bahwa pembenturan kepalanya itu adalah gejala epilepsi yang aneh. Tetapi obat antikejang tidak membantunya sama sekali. Juga obat penenang yang paling keras sekalipun.

Ia tidak autistik. Ia bukan juga skizofrenik. Ia tidak menunjukkan gejala-gejala psikosis.

Salah seorang ahli Freud berkata bahwa Kate membenturkan kepalanya untuk menyembunyikan derita psike yang dipenuhi konflik. Tapi cobalah Anda terka sendiri seberapa efektif dugaannya itu.

Akhirnya, dokter itu sampai juga dengan apa yang disebut diagnosis ganda: anxiety disorder yang ditandai dengan kecenderungan kompulsif, plus kegagalan perkembangan. Jelas tidak membantu Kate, tetapi membuat dokter merasa lebih baik.

Dor! Dor! Irama benturan itu sangat mencekam dan menakutkan, seperti lecutan cambuk pada punggung orang. Jika kita melihat orang menyiksa dirinya, naluri kita mendorong kita untuk menarik diri dengan kesal. Itulah apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang di lembaga itu, meninggalkan Kate dalam kesepian pengucilannya. Tapi, aku tidak bisa hanya mengisi lembar diagnosis dan terus pergi. Itu bukan kebiasaanku.

Dor! Dor! Dan setelah itu … sepi. Kesunyian itu terasa manis, seperti sebuah oase. Aku mengambil kesempatan untuk menatap mata Kate. Ia memandang balik, tanpa emosi, tanpa perasaan, matanya kosong. Aku hanya melihat di matanya cerminan diriku sendiri.

“Di mana kamu, Kate?” aku bertanya dengan lembut. “Kamukah di situ?”

Kate memang ada, pikirku. Tetapi di mana?

Inilah yang aku ketahui sekarang: Kate berada di tempat yang sama ketika orang kehilangan perasaan untuk memilih arah hidupnya – terjebak dalam depresi dan perasaan tak berdaya, tanpa kesadaran diri.

Tampaknya ia tidak lagi mengapresiasikan kehidupan – dan itu dapat dipahami dalam kondisi – dan ia terpenjara pada fungsi otaknya yang mengendalikan ketakutan. Otak reptilnya berkuasa.

Dan sekarang ada keheningan. Sudah beberapa menit.

Tiba-tiba terpikir dalam benakku – sebuah konsep yang sebetulnya begitu jelas sehingga hampir-hampir tidak kelihatan: ia mampu menghentikan benturan kepalanya.

Ia punya kekuatan untuk menghentikan penghancuran diri. Ia hanya tidak menyadarinya. Semua orang pun tampaknya tidak. Pada saat itu, aku sadar bahwa penyembuhan bergantung kepadanya, bukan kepadaku. Satu-satunya tugasku ialah membawanya untuk melihat bahwa ia punya kekuatan itu dan punya pilihan.

Aku ambil tangannya. Memegangnya dengan lembut. Setelah beberapa saat, perlahan-lahan seperti mesin, ia berpaling kepadaku. Ia mengangkat matanya.

Kata orang, mata adalah jendela jiwa. Untuk beberapa detik, perkataan itu benar. Itulah dia! Tidak beda. Sendirian dan tanpa daya, tanpa kekuatan, tanpa pertolongan, tidak bahagia.

Aku tidak tahu, sudah berapa lama tidak ada orang yang memegang tangannya. Aku duduk di situ dengan perasaan tidak berdaya juga. Seharusnya aku berada di situ sebagai psikolog baru yang masih segar – Dr. Freud muda – tapi aku merasa tidak lebih dari sekadar Dr. Penggandeng muda.

Aku tahu, berdasarkan atas apa yang aku lihat, tidak ada ganjaran ataupun hukuman yang dapat menghentikannya. Satu-satunya cara untuk menghentikan Kate adalah membuatnya punya kemampuan untuk memilih. Tetapi, bagaimana caranya membuat seseorang memilih? Kalau Anda yang membuatnya, itu bukan pilihan.

Pilihan adalah suara hati. Kejujuran dalam tindakan. Oleh karena itulah, pilihan sangatlah perkasa.

Walaupun dalam keadaan bingung, aku berhasil melihat jelas: ketika aku memegang tangan Kate, ia tampak merasa lebih baik. Ia kelihatan lebih tenang dan pandangan matanya yang kesepian perlahan-lahan melembut. Aku telah memperoleh satu pelajaran. Pengucilan karena takut dapat diatasi – sering kali lebih cepat, tanpa psikoterapi bertahun-tahun. Jika ini terjadi, kemungkinan mulai terbentuk, bahkan untuk orang-orang yang kondisinya tampak seperti tidak punya kemungkinan sama sekali.

Sampai di sini, aku tidak berusaha memasukkan kebahagiaan dalam hidup Kate. Terlalu muluk untuk diharapkan. Aku hanya ingin memasukkan kehidupan dalam hidup Kate. Pada siang hari yang sama, aku menceritakan Kate kepada kepala unit pediatrik dan aku ingat ia berkata, “Ooh, yang itu. Pilihannya sangat terbatas.” Aku tidak mengacuhkannya. Di tempat asalku – daerah perbatasan Midwest, pada era peluang yang tak terbatas pada 1960-an – semua orang punya kemungkinan, juga orang seperti Kate.

Kemungikinan, aku masih yakin, selalu ada pada kita semua, bahkan pada orang-orang yang paling sedikit memilikinya – bahkan pada sebagian di antara kita (dan itu mungkin termasuk Anda) yang terpuruk dalam sebuah sudut sempit.

Kemungkinan, bukan saja selalu ada, tetapi juga tidak dapat dilepaskan. Kemungkinan diperlukan untuk kehidupan jiwa sebagaimana oksigen diperlukan untuk kehidupan raga

Walaupun kemungkinan selalu ada, kita mungkin tidak melihatnya, karena kita dibutakan oleh ketakutan. Ketakutan biasanya dimulai ketika kita terlalu sering gagal atau ketika kita dihambat berkali-kali oleh orang-orang di sekitar kita. Jika ini terjadi, kemampuan kita menyelesaikan persoalan berkurang sangat banyak. Pada tingkat yang paling buruk, yang ada hanyalah melawan, melarikan diri, dan mematung. Kita hanya reaktif dan tidak proaktif. Problem menjadi penjara …

Pada saat berikutnya aku mengunjungi Kate, yang pertama aku lakukan adalah mengulurkan tanganku kepadanya dan menjalin hubungan. Ketika Kate sudah mulai tenang, benturan kepalanya berkurang dan akhirnya berhenti. Segera setelah itu, aku berkata kepadanya dengan lembut, “Kate, marilah kita lupakan pembenturan kepalamu itu. Mari kita pusatkan perhatian pada apa yang kamu lakukan ketika kamu tidak membenturkan kepalamu.”

Setelah itu, aku ingin menyebutnya Prinsip 60 Menit: memusatkan perhatian pada beberapa menit dalam setiap jam ketika seseorang berfungsi dengan baik, dan tidak lagi memusatkan perhatian pada kegagalannya. Tujuannya ialah memperpanjang menit-menit yang baik itu sampai mencakup satu jam. Tentu saja waktu itu aku tidak berusaha menciptakan pendekatan baru. Aku hanya bekerja berdasarkan apa yang aku ketahui.

Ketika aku melihat ruangan steril di sekitar kami – kurungan yang dibangun dengan penuh iba – aku merasa terdorong untuk keluar. Aku pikir, pastilah Kate juga ingin keluar. Aku membuka pintu dan kami berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit. Aku mengawalnya ke arah tengah untuk menghalanginya agar tidak membentur tembok di sekitarnya. Walaupun begitu, ia tetap juga membenturkan kepalanya ke dadaku. Buk! Buk! Buk!

Aku membuka pintu depan rumah sakit yang besar. Tiba-tiba kami diselimuti pagi musim semi yang lembut, hijau, dan kuning, dengan pepohonan dan cahaya mentari. Udara hangat menyentuh kami, Kate pun terpana. Aku merasakan tangannya menegang dan setelah itu mengendur. Entah berapa lama ia tidak melihat dunia luar.

Kepalanya seperti mendongak di atas bahunya. Dalam beberapa menit kemudian matanya tidak lagi melihat ke dalam, tetapi menerobos ke dunia indah yang kami huni. Dengan aroma bunga yang memenuhi udara, Kate tampaknya untuk beberapa saat dipenuhi dengan kekaguman pada dunia. Seekor kupu-kupu terbang melintas dan Kate mengawasinya dengan matanya ketika kupu-kupu itu hinggap di atas bunga di samping kami. Ia tampak terpesona dan tidak sedikit pun gerakan untuk membenturkan kepalanya. Aku ingin Kate mengembalikan hidupnya lagi yang sudah dicuri oleh orang-orang yang bermaksud baik. Tujuanku ialah untuk membangkitkan penghargaan dia kepada dunia di sekitarnya, mendorongnya untuk mulai membuat pilihan, sehingga ia merasa sebagai seorang manusia dan bukan hanya sebuah kasus.

(Dr. Baker kemudian memberikan latihan agar Kate mampu memilih tindakan di antara berbagai pilihan. Makin banyak pilihan yang telah dilakukannya, makin sedikit ia membenturkan kepalanya. Kesadarannya mulai timbul. Singkat cerita, Kate menjalani kehidupan yang normal, punya banyak kawan, dan punya penghasilan yang cukup. Pada suatu hari, ketika Dr. Baker mengunjunginya, ia berada di tengah-tengah pesta. Sekarang, kita akan melanjutkan lagi cerita Baker.)

Di tengah orang banyak itu, aku pikir ia tidak akan mengenalku. Tetapi, ia menemukanku. Berlari kencang. Memelukku erat-erat. Tidak mau melepaskanku. Itulah bayaran terbaik yang pernah aku dapat, pelukan itu. Kebahagiaan yang datang dari pelukan itu berlangsung lama. Peristiwa ini membuatku meyakini untuk selama-lamanya kebenaran universal: Setiap orang mempunyai kemungkinan. Setiap orang. Dan memilih di antara berbagai kemungkinan itu adalah anugerah eksistensial kita sebagai manusia.

Anda sudah cukup panjang membaca penuturan Dr. Baker. Cukuplah sampai di sini saya ingin mengatakan bahwa Anda bisa memalingkan perhatian Anda kepada kekuatan-kekuatan Anda, daripada hanya bergelut dan terlalu sering memikirkan masalah, seperti yang dilakukan oleh psikologi negatif selama ini. Anda masih mempunyai harapan yang sangat besar dalam hidup ini, tidak peduli bagaimana keadaan Anda saat ini. Yang perlu Anda lakukan adalah memperluas nilai positif Anda, karena adalah sangat mustahil jika Anda tidak memiliki nilai positif sama sekali; karena dalam setiap keburukan yang pernah Anda lakukan, akan selalu ada masa dimana Anda juga pernah berbuat kebaikan, kembangkanlah kebaikan Anda itu dan fokuslah untuk meningkatkannya. Ingat! Apa yang Anda pikirkan dan fokuskan, itulah yang akan datang menemui Anda.

Dan yang lebih menarik lagi adalah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Kazuo Murakami, yang meneliti tentang fenomena gen manusia. Penelitian Murakami ini semakin mengukuhkan akan psikologi positif. Berdasarkan penelitian Murakami, telah terbukti semakin jelas bahwa emosi positif mempengaruhi aktivasi gen kita. Dan untuk pertama kalinya penelitian ini memberitahukan kepada kita bahwa emosi positif dapat memicu tombol genetik, dimana emosi positif itu akan mengaktifkan gen positif dan menonaktifkan gen negatif kita. Dari hal ini dapat diketahui bahwa terbuka kemungkinan tak terbatas untuk mengembangkan potensi manusia.

No comments:

Post a Comment